“Mengasihi Dalam Penderitaan”: Renungan, Rabu 30 Juni 2021

0
760

Hari biasa (H)

Kej. 21:5,8-20; Mzm. 34:7-8,10-11,12-13; Mat. 8:28-34

Dalam hidup berkeluarga, seorang ibu pasti menginginkan masa depan yang cerah untuk anaknya. Dimana dengan segala cara ia akan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Dan bila ada orang atau sesuatu yang menghalangi hal itu, ia akan berusaha untuk menyingkirkannya. Dalam kasus seperti ini, kita pasti merasa bahwa ibu itu terlalu memanjakan anaknya dengan sikap keegoisannya.

Hal ini pula yang dikisahkan dalam bacaan pertama, dimana Sara yang demi masa depan anaknya Ishak, membujuk Abraham untuk mengusir Hagar dan anaknya. Sara berkata kepada Abraham : “Usirlah hamba wanita itu dengan anaknya, sebab anaknya itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (Kej. 21:10). Dari perkataan ini, kita dapat melihat bahwa Sara pada dasarnya merasa tidak nyaman dengan kehadiran Hagar dan anaknya Ismael. Hal itu juga menunjukkan ketakutannya bahwa Hagar dan anaknya akan merebut apa yang seharusnya anaknya miliki, yaitu ahli waris tunggal dari Abraham. Dari sini, Sara dengan jelas menunjukan sikap keegoisannya. Akan tetapi kita harus melihat hal ini bukan saja dari perpsektif kemanusiaan kita, tetapi juga dari rencana keselamatan yang Allah langsungkan dalam kehidupan Abraham dan keluarganya. Ada hal positif yang ditunjukkan dari sikap dan perilaku Sara, bahwa ia mengingatkan kembali Abraham akan rencana Allah. Dan bahwa anaknyalah yang telah dipilih Allah untuk menjadi ahli waris, sesuai dengan janji Allah sendiri. Namun ada juga sisi negatifnya bahwa dengan peristiwa itu, Hagar dan anaknya Ismail mengalami penderitaan di padang gurun.

Tetapi karena kasih-Nya yang besar, Allah tetap mendampingi Hagar dan anaknya, sebab Ismail juga adalah darah daging dari Abraham sendiri. Allah juga memberikan masa depan yang cerah bagi Ismail dan menjanjikan bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar. Dari semuanya itu Allah menunjukkan bahwa kasih yang ia berikan tulus kepada semua orang yang menderita. Sekalipun ia menderita karena dosa yang kita perbuat, namun Allah tetap mengasihi dan melindungi kita. Maka sebagai orang beriman, kita hendaknya berusaha untuk bertindak seturut keinginan Tuhan, seperti yang telah Ia lakukan. Dengan  berusaha untuk mengasihi sesama, meskipun dalam penderitaan. Sebab penderitaan orang lain pasti lebih besar dari yang kita rasakan.

(Fr. Romaldo Fangohoi)

“Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi-babi itu” (Mat. 8:31).

Marilah berdoa:

Ya Allah, semoga  kasih-Mu memampukan kami mengasihi sesama kami, meskipun dalam penderitaan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here