Refleksi: “Perjuangan Menjaga Dan Menghidupi Panggilan di Masa Pandemi ini”

0
362

Perjuangan untuk menjaga dan menghidupi panggilan di Masa Pandemi ini memang tidaklah mudah. Perjuangan yang saya lakukan di masa pandemi ini akhirnya mengubah  pola pikir dan cara saya untuk menghayati lebih mendalam bagaimana panggilan ini. Pertanyaan reflektif dari pernyataan itu, apakah saya bisa menjaga bahkan menghidupi panggilan di masa yang tidak normal ini, yakni di masa pandemi ini? Saya pun tiba pada ide pokok untuk masuk pada refleksi saya sendiri yakni tentang Kesetian Sebagai Bentuk Perjuangan

Berbicara soal kesetiaan, tentu tidaklah segampang memutarbalikkan telapak tangan. Usaha-usaha untuk merealisasikan kesetiaan akan panggilan menjadi calon imam, tidaklah mudah. Pernyataan ini jelas bahwa bukan cuma saya sendiri yang kadang tertatih, acuh tak acuh bahkan cuek untuk menyingkapkan kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga segelintir orang yang menjalankan panggilan mereka masing-masing. Saking sulitnya, orang-orang akhirnya memaknai kesetiaan sebatas kata saja. Pemaknaan lebih mendalam yakni pada sikap aktif tentang kesetiaan itu, hanya seperti hal biasa yang terlewatkan.

Adapun kesetiaan yang saya refleksikan berdasarkan ayat Kitab Suci, tepatnya pada Injil Lukas 16:10 tentang setia dalam perkara kecil dan kemudian pada perkara besar. Ayat ini menjadi patokan saya dalam menjalankan kesetiaan sebagai bentuk perjuangan saya di masa ini. Adalah lebih baik bagi saya untuk mulai memperjuangkan pangilan saya dengan setia pada perkara kecil, bukan dari perkara yang besar.

Mengapa harus setia pada hal kecil? Dengan setia pada perkara kecil, mutiara-mutiara sebagai hasil dari perjuangan boleh didapatkan. Dengan setia pada perkara kecil juga pemaknaan yang saya lakukan bisa dihubungkan pada beberapa perjuangan lainnya. Semisal saya belajar, jikalau perjuangan saya untuk belajar adalah bagian dari perjuangan saya, kesetian untuk belajar dengan giat, rajin, dan tekun adalah penggerak utama. Misalnya juga saya bekerja saat jam bekerja dan berdoa pada jam untuk berdoa. Hal-hal demikian merupakan perjuangan saya sebagai bentuk pembinaan diri sebagai calon imam. Hal-hal kecil ini menuntun saya untuk menampilkan dengan ‘lebih’ makna kesetiaan itu sendiri. Itulah buah dari perjuangan saya yang menghidupi kesetiaan itu,

Pada akhirnya buah dari perjuangan saya itu, memunculkan pertanyaan refleksi baru untuk saya hidupi dalam perjuangan menjaga dan menghidupi panggilan ini. Pertanyaan untuk lebih pada setia pada perkara besar: ‘apakah nantinya perjuangan untuk menjaga dan menghidupi panggilan akan menghasilkan buahnya? Jika nanti perjuangan itu menghasilkan buah, bagaimanakah perjuangan saya selanjutnya dalam menghidupi dan menghayati kehidupan saya sebagai seorang imam nantinya?’

(Fr. Dirros Pugon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here