“Kesembuhan yang Menyelamatkan”: Renungan, Sabtu 26 Juni 2021

0
582

Hari Biasa (H)

Kej. 18:1-15; Mzm. MT Luk.1:46-47, 48-49, 50, 53; Mat. 8:5-17.

Bacaan hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menyembuhkan hamba seorang perwira. Ada dua hal menarik dari peristiwa tersebut. Pertama, iman adalah kekuatan yang menyembuhkan. Ketika Yesus hendak pergi ke rumah sang perwira, dengan penuh keyakinan dan kerendahan hati ia mengatakan, “Aku tak layak menerima Tuhan di rumahku, katakanlah sepatah kata maka hambaku itu akan sembuh.” Perwira itu amat yakin dan percaya pada kata-kata Yesus yang penuh kuasa untuk menyembuhkan dan menghidupkan. Karena itu, Yesus pun memujinya.

Kedua, sebelum Yesus menyembuhkan hamba yang sakit itu, sesungguhnya si perwira sendirilah yang terlebih dahulu menyembuhkan hambanya. Mengapa demikian? Hamba dalam kehidupan orang Israel adalah budak suruhan. Dia dibutuhkan saat dia kuat, tetapi akan dijual jika sudah tidak berguna lagi. Oleh sebab itu, seorang hamba adalah pribadi yang kehilangan kebebasan dan martabat luhurnya sebagai manusia. Maka ketika perwira merisaukan, memperhatikan dan mengusahakan kesembuhannya, hal ini menunjukkan kepada kita semua betapa si perwira begitu menghargai martabat pribadinya. Dengan demikian, kesembuhan yang paling pokok bagi seorang hamba adalah ketika harkat dan martabatnya dihargai dan dipulihkan.

Iman akan kuasa ilahi dan pengakuan akan martabat luhur manusia yang diperlihatkan sang perwira tadi, hendaknya menjadi teladan kita agar dunia menjadi sehat dan diberkati Tuhan. Banyak dari kita yang seringkali melupakan tugas dan tanggung jawab sebagai orang beriman. Membangun keyakinan dan kesungguhan untuk bertumbuh dalam iman, pengaharapan dan kasih menjadi tolak ukur setiap kita untuk sembuh dari keterpurukan diri yang ada. Kehidupan yang sementara dijalani menjadi identitas bagi pribadi kita masing-masing.

Refleksi atas pengalaman hidup menjadi bagian penting dalam perkembangan iman kita. Apakah kita sudah mampu menyembuhkan orang-orang yang mengalami penindasan? Atau malahan kita yang menjadi penindas. Hari ini Yesus datang mengingatkan kita untuk menghargai martabat pribadi orang lain dan diri sendiri. Sesungguhnya Yesus memberikan amanat yang patut kita teladani bersama. Kesungguhan perwira membuat martabatnya naik dan tetap percaya akan kasih Allah yang selalu menyelamatkan. Maka dari itu kita diajak menjadi pribadi yang luhur dan mempunyai tekad yang kuat untuk selalu memperjuangkan harkat dan martabat orang lain dan diri sendiri.

(Redaksi Lentera Jiwa )

“Aku akan datang menyembuhkannya”(Mat. 8:7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, sadarkanlah kami untuk selalu menghargai orang lain sebagai sesama yang patut dicintai. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here