Refleksi:“Pertobatan Ekologis”

0
205

Saya meminjam istilah untuk judul refleksi ini dari seruan Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik “Peace with God the Creator, Peace with All Creation”, yang menyerukan pertobatan ekologis. Sebab seruan ini merupakan ajakan yang selalu relevan dengan situasi dan kondisi bagi kita semua untuk peduli, menjaga dan memelihara alam semesta. Apalagi kita sekarang sedang berada di masa pandemi covid-19.

Pandemi covid-19 ini memberikan pelajaran berharga bagi kita semua untuk menjaga keseimbangan alam. Alam menjadi fondasi pendukung semua kehidupan, di daratan, lautan dan udara. Ia mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia, mulai dari kesehatan, penyediaan air bersih, udara, makanan, obat-obatan, dan perubahan iklim. Semuanya berasal dari alam. Sehingga kita harus menjaga dan memelihara alam semesta. Sudah waktunya untuk menjaga dan memelihara alam semesta dengan lebih baik lagi. Dalam masa pandemi alam membaik karena pola manusia dalam kegiatan ekonomi berubah. Alam akan mengalami rehabilitasi secara mandiri. Dengan kata lain berkurangnya tekanan manusia terhadap alam, menyebabkan alam memperbaiki dirinya sendiri.

Saya berpikir bahwa momentum ini, merupakan saat yang tepat untuk bangkit bersama memulihkan ekologi. Hal ini merupakan bagian usaha dari pertobatan ekologis. Sebelum ada pandemi, dunia telah mengalami krisis lingkungan. Ada tanda-tanda krisis. Misalnya terjadi bencana alam seperti tanah longsor, kehilangan spesies dan keragaman hayati. Sangat dibutuhkan pertobatan ekologis. Sehingga momentum ini, menjadi langkah dalam mendorong perubahan. Peranan kita semua sangat dibutuhkan tanpa terkecuali.

Beralih ke perwujudannya. Bahwa dalam rangka itu, kami para frater di Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng, khususnya tingkat empat, berusaha menjaga dan memelihara alam dengan Eko-pastoral. Bagi kami, eko-pastoral perlu digalakkan dan dilaksanakan.

Ada kisah kami tentang eko-pastoral. Kami diberikan tanah oleh pihak Seminari untuk diolah menghasilkan sesuatu, sebagai pengganti dari kegiatan weekend pastoral. Kami mengolah tanah tersebut dengan menanam bahan pangan.  Kami membuat lahan kosong menjadi lahan yang produktif. Dengan membersihkan lahan itu yang tampak sebelumnya belum disentuh. Kemudian kami membuat bidang-bidang tanah sebagai tempat untuk menanam sayur-sayuran dan tanaman lainnya. Ada sayur kangkung, pok-cai (istilah lokal), bayam, juga ada jagung, cabai, dan tanaman lainnya. Bagi saya sendiri pemanfaatan lahan ini merupakan hal yang baik, karena memberikan dampak positif untuk saya dan alam sekitar. Ini merupakan kisah singkat kami. Saya yakin ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjaga dan memelihara alam semesta.

Maka, marilah kita menjadi pelopor dan penggerak lingkungan hidup dalam arti luas dengan pertobatan ekologi. Eko pastoral atau pastoral merawat bumi adalah tanggung jawab kita!

(Fr. William Jansen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here