“Menjadi Jeli dan Bijaksana”: Renungan, Senin 21 Juni 2021

0
700

Pw S. Aloysius Gonzaga, Biarawan (P)

Kej. 12:1-9; Mzm. 33:12-13,18-19,20,22; Mat. 7:1-5.

Hari ini Gereja Katolik memperingati St. Aloysius Gonzaga. Ia awalnya seorang ahli waris dari keluarga bangsawan yang kaya. Namun, ia memilih untuk meninggalkan kebangsawan dan hak ahli warisnya, lalu menyerahkan diri dan mengabdi seutuhnya kepada Allah dengan menjadi seorang biarawan. Keputusan itu diambilnya karena dirinya merasa tidak cocok dengan gaya hidup bangsawan yang dipenuhi dengan kelicikan, kedengkian, dendam, dan berbagai keburukan lainnya. Ia wafat karena tertular wabah penyakit dari pasien-pasien yang dilayaninya sendiri dengan sepenuh hati.

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus memberi pengajaran kepada kita mengenai perihal menghakimi. Yesus mengingatkan kita untuk selalu mawas diri dan tidak hanya melihat keburukan orang lain. Ia menghendaki kita untuk hidup sebagai saudara dan bukan sebagai hakim satu dengan yang lain. Selain itu, dari perihal menghakimi kita juga diingatkan untuk menjadi jeli dan bijak dalam menghadapi setiap persoalan sehingga mampu mengambil keputusan yang tepat dan benar dalam hidup.

Keputusan yang tepat dan benar seperti apa yang dimaksud? Menyerahkan diri seutuhnya dan mengabdi kepada Allah dengan segenap jiwa-raga merupakan keputusan yang paling tepat dan benar sebab hal ini akan mendatangkan keselamatan. Hal ini telah ditunjukkan oleh Abraham yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Sewaktu Allah memanggil dan berfirman kepadanya untuk pergi ke tanah terjanji, Abraham langsung menurutinya. Padahal ia sendiri tidak tahu tempat seperti apa yang dimaksudkan Allah. Tapi karena imannya yang besar, firman itu ia turuti. Alhasil, darinya dan keturunannya mengalirlah berkat Allah yang mendamaikan segala sesuatu seperti yang telah dijanjikan-Nya. Contoh yang sama dapat kita lihat di dalam diri St. Aloysius yang kita peringati hari ini. Warisan dan kesenangan serta kenikmatan hidup sebagai seorang bangsawan tidak membutakan dirinya. Malahan dengan jeli dan bijak ia memilih untuk mengabdi Allah dengan menjadi seorang biarawan dan melayani para penderita sampar. Ia ingin hidup di hadapan Allah sebagai orang yang benar. Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah kita mampu menentukan pilihan yang tepat dan benar atas kehidupan kita?

(Fr. Antonius Braien El)

“Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat. 7:5).

 

Marilah berdoa:

Ya Bapa, bantulah diriku agar dengan bijak dan jeli mampu mengambil keputusan yang benar dan tepat dalam hidupku, yakni mengabdi kepada-Mu dengan seluruh jiwa-ragaku. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here