“Jangan Takut” Renungan, Minggu 20 Juni 2021

0
1204

Hari Minggu Biasa XII (H)

Ayb. 38:1.8-11; Mzm. 107:23-24,25-26,28-29,30-31; 2 Kor. 5:14-17; Mrk. 4:35-40

Hidup manusia merupakan sebuah kapal yang berada di atas lautan yang hendak mencapai suatu tujuan. Dalam proses mencapai tujuan tersebut tentunya ada begitu banyak masalah dan tantangan yang harus dihadapi, seperti gelombang dan angin kencang di tengah lautan. Ketika kita menghadapi situasi semacam itu tentunya ada ketakutan, kecemasan bahkan keputusasaan yang muncul dalam diri. Perasaan-perasaan ini sangat berpengaruh dalam proses perjalanan hidup kita di dunia ini.

Bacaan-bacaan hari ini mau mengajak kita semua untuk melihat kembali proses perjalanan kehidupan kita. Ada begitu banyak tantangan dan pergumulan serta ancaman hidup yang sering kita jumpai dalam kehidupan setiap hari. Apakah kita mampu dan kuat untuk menghadapi semua persoalan serta tantangan hidup kita? Badai serta tantangan dalam hidup juga dialami oleh para murid sendiri. Ayub mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak diandaikan seperti laut yang tenang. Ayub dibentuk dan diuji oleh Tuhan agar memiliki keyakinan dan keteguhan iman melalui peristiwa badai dalam hidupnya. Selanjutnya, Paulus mengigatkan kita tentang identitas dan kesadaran diri kita sebagai murid Kristus. Sebagai murid Kristus kita senantiasa berada dalam kekuasaan Kristus sendiri. Artinya bahwa apapun yang kita alami dalam hidup, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita melainkan Tuhan senantiasa menyertai dan membimbing hidup kita.

Segala pergumulan dan tantangan serta badai kehidupan yang kita alami merupakan cara kita berjumpa dengan Tuhan sendiri. Hal itu nampak dalam bacaan Injil hari ini. Bagaimana para murid sendiri mengalami peristiwa yang luar biasa ketika mereka hendak bertolak ke seberang. Dalam situasi tersebut mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak yang menghantam perahu mereka. Ketakutan dan kecemasan akhirnya menghantui mereka lalu mereka membangunkan Yesus. Lewat peristiwa tersebut akhirnya perasaan takut dan cemas hilang dari hadapan mereka karena Yesus justru meyakinkan dan meneguhkan iman mereka bahwa Ia hadir dan bersama-sama dengan para murid. Kitapun diajak oleh Yesus sendiri bahwa Allah tidak memberi hidup bagi kita untuk sesuatu yang sia-sia. Allah punya tujuan ketika memberi kita hidup, karena itu jadikan semua pengalaman hidup baik suka maupun duka sebagai proses bagi kita dalam menemukan dan menanggapi panggilan hidup kita. Amin.

(Fr. Billy Leonardo Tendean)    

“Ya Bapa, hadirlah senantiasa di tengah-tengah kami karena berkat kehadiran-Mu kami tenang dan selamat Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk. 4:40).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, dampingilah aku di sepanjang hidupku. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here