“Masihkah Kita Khawatir?” Renungan, Sabtu 19 Juni 2021

0
728

Hari Biasa (H)

2Kor. 12:1-10; Mzm. 34:8-9,10-11,12-13; Mat. 6:24-34

Kekhawatiran merupakan suatu perasaan gelisah atau cemas akan suatu hal yang belum diketahui dengan pasti. Sebagai manusia, kita sering berjumpa dengan kekhawatiran-kekhawatiran ini. Khawatir akan apa yang terjadi kepada kita di dunia. Khawatir bila tidak memiliki makanan, bila tidak ada minuman, tidak menggunakan pakaian yang bagus, tempat tinggal yang nyaman dan mewah, pekerjaan yang mendukung dan lain sebagainya. Bahkan kematian pun menjadi kekhawatiran terbesar bagi setiap manusia. Manusia merasa khawatir bila tidak lagi akan merasakan hari esok. Semua ini menunjukkan bahwa manusia belum memiliki kesiapsediaan dalam menghadapi hidup di dunia. Manusia takut akan segala sesuatu yang akan membuatnya merasakan sakit, menderita, malu, tak berdaya dan lain sebagainya. Karena kekuatiran inilah semua yang dilakukan menjadi berantakan.

Bacaan-bacaan hari ini mengantar kita pada satu peneguhan diri. Kita dihantar dalam kesiapsediaan diri dengan berpegang teguh dan percaya kepada Allah. Bacaan pertama mengisahkan tentang Paulus, seorang yang menerima penglihatan dan penyataan. Dengan berpegang dan percaya kepada Allah, Paulus mampu menjadi pewarta sabda Allah tanpa beban apapun. Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang peneguhan dari Allah kepada manusia akan kekhawatirannya yang berlebihan mengenai makanan dan pakaian. Manusia di ajak untuk melihat dan belajar dari alam, seperti burung-burung yang mendapat makanan meskipun tidak menabur dan mengumpulkan bekal, seperti bunga bakung yang tumbuh tanpa bekerja, seperti rumput di ladang yang hari ini ada  dan besoknya dibuang ke dalam api.

Semua itu ingin menunjukkan satu hal pasti, bahwa di mata Allah manusia melebihi ciptaan apapun. Manusia jauh lebih penting dari pada apapun. Sebagai ciptaan-Nya, Allah selalu memperhatikan manusia. Oleh sebab itu kita diajak supaya menghilangkan segala kekuatiran berlebihan dalam diri dan pikiran kita. Kita diajak untuk mengarahkan hati kepada Allah, menyerahkan diri seutuhnya hanya kepada-Nya, berpegang teguh dan percaya kepada-Nya, maka semuanya menjadi lebih pasti. Kita diajak untuk meneladani Paulus yang dengan kepercayaan penuh, menyerahkan dirinya kepada Allah, sehingga ia mampu menghadapi segalanya. Percaya bahwa Allah yang selalu kita sapa dalam doa adalah Allah yang mengetahui segalanya, Allah yang mempunyai segalanya dan Allah yang adalah segala-galanya. Dengan begitu, masihkah kita khawatir?

(Fr. Andi Bambi)

“Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, sebab hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat. 6:34).

Marilah berdoa:

Bapa, kuatkanlah kami agar kami selalu percaya kepada-Mu dan menyerahkan segala kekhawatiran kami sehingga kami mampu melayani-Mu dengan segenap hidup kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here