“Menemukan Tuhan dalam Keheningan”: Renungan, Kamis 17 Juni 2021.

0
771

Hari Biasa (H)

BcE 2 Kor. 11:1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat. 6:7-15

Semakin manusia bertambah umurnya, semakin pula ia disibukkan dengan berbagai macam hal duniawi. Urusan karier, percintaan, jabatan, dan lain-lain, senantiasa dikejar oleh setiap orang. Pelbagai hal tersebut berusaha dicari dan dicapai demi kehidupan manusiawi. Namun, bagaimana dengan kehidupan rohaniah kita? Di tengah berbagai urusan duniawi ini, sudahkah diseimbangkan antara urusan duniawi dengan hidup rohani kita? Dalam hal ini secara jelas terlihat dalam hidup doa kita.

Hari ini, lewat bacaan Injil, kita diajak untuk berhenti sejenak dari kesibukkan kita dan mulai berdoa. Yesus sendiri pun semasa hidup-Nya tak pernah lupa untuk berdoa. Dalam karya-Nya ia tak melupakan Bapa yang mengutus-Nya. Adapun doa yang dimaksudkan ialah doa yang tidak bertele-tele, tanpa kata-kata yang banyak. Dengannya, Yesus ingin menegaskan bahwa sesungguhnya doa yang baik keluar dari hati bukan sekedar kata-kata “pemanis” belaka.

Dalam rangka menggambarkan doa yang baik, maka ditampilkanlah sebuah doa yang sempurna. Doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri yakni doa Bapa Kami. Sebagaimana diperlihatkan dalam doa Bapa Kami, terlihat beberapa unsur penting untuk diperhatikan dalam doa seperti: ungkapan syukur dan pujian, permohonan, belas kasih, pengampunan, penyerahan diri, perutusan. Begitu banyaknya unsur ini bukan mengartikan bahwa doa Bapa Kami merupakan doa yang bertele-tele melainkan doa Bapa Kami adalah doa yang sempurna. Hal-hal semacam itulah yang selayaknya ada dalam sebuah doa.

Dalam hidup, sering kita mempergunakan doa sebagai pelarian dari masalah. Ataupun kita menjadikan doa sebagai pemaksaan kehendak pribadi kita. Padahal doa sendiri merupakan jalinan relasi kita dengan Tuhan dan bukan sekedar pemenuhan kebutuhan pribadi. Untuk itu, hari ini kita diajarkan bahwa doa yang baik keluar dari hati yang baik pula. Karena itu, tidak diperlukan adanya banyak kata-kata dalam doa.

Dalam perkataan ini tersirat makna bahwa doa berasal dari inti kedalaman hati kita. Dan untuk mencapainya diperlukan suatu sikap batin yakni keheningan. Doa yang baik dapat terucap dalam situasi yang hening. Di dalamnya kita menjumpai Tuhan sendiri dalam hati kita. Perjumpaan ini mempererat ikatan kesatuan dengan Tuhan, sehingga kita semakin mampu mengenal Allah, mengalami cinta-Nya dan kehendak-Nya atas diri kita.

 

Fr. Dandi Papoto

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah” (Mat. 6: 7).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ajarkanlah kami untuk dapat berdoa dengan sungguh-sungguh sehingga mampu mengenal dan melaksanakan kehendak-Mu atas diri kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here