“Kasih yang Sempurna”: Renungan, Selasa 15 Juni 2021

0
802

Hari Biasa (H)

2 Kor. 8:1-9; Mzm. 146:2,5-6,7,8-9a; Mat. 5:43-48

Apakah upah yang kita peroleh ketika mampu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita? Bukankah orang jahat juga mampu berbuat yang demikian? Sering kali di dalam media-media, baik online maupun media cetak, diangkat kasus-kasus kejahatan atau kriminalitas yang terjadi di sekitar kita. Hal itu membawa dampak psikis bagi semua umat manusia. Lantas, apakah kita juga harus takut akan hal itu, sampai-sampai kasih kita hanya terbatas kepada mereka yang berbuat baik kepada kita? Inilah yang menjadi pergumulan etis manusia setiap harinya.

Bacaan-bacaan hari ini mengajarkan banyak hal kepada kita semua tentang perbuatan kasih dan sikap terhadap orang lain yang mungkin menyakiti atau berbuat jahat kepada kita. Bacaan pertama dari Surat Paulus yang Kedua kepada Jemaat di Korintus melukiskan kisah hidup yang penuh dengan kasih Allah. Hal itulah yang dialami dan dibagikan oleh Jemaat di Makedonia. “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap.” Kebanyakan dari kita, ketika menghadapi pencobaan dan permasalahan, selalu putus asa, cemas, takut bahkan lari dari kenyataan itu. Inilah yang dinamakan dengan miskin kasih, kasih yang terbatas dan tidak sempurna.

Bacaan Injil hari ini menguatkan dan meneguhkan kita dalam perbuatan kasih kepada Allah dan sesama. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”, perintah Yesus. Kasih inilah yang paling sempurna dari semua perbuatan kasih yang tidak totalitas. Karena ketika kita sanggup mengasihi musuh kita, pasti kita sanggup pula mengasihi mereka yang berbuat baik kepada kita. Teladan untuk membagikan kasih yang sempurna itu adalah Yesus yang berseru dari atas salib, “Ya Bapaku, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Perbuatan kasih yang sempurna adalah sikap manusia yang mampu untuk tetap melihat hal positif atau hal baik dalam kehidupan sesamanya, kendati ia telah berbuat jahat. Kasih yang sempurna menyangkut penerimaan akan hal yang di mata manusia tidak bisa lagi diampuni, tetapi di mata Allah masih bisa diampuni. Dengan begitu, kita diajarkan untuk melihat bukan dari mata manusia tetapi dari mata Allah, supaya kita menjadi sempurna sama seperti Bapa kita yang di sorga adalah sempurna.

 Fr. Andris Yosua Sumigar

“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:48).

Marilah Berdoa:

Allah Bapa yang Mahabaik, bantulah kami dengan penerangan dan kekuatan Roh Kudus, agar mampu menjadi pelayan kasih yang sempurna. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here