“Peranan Hati yang Berkualitas”: Renungan, Jumat 11 Juni 2021

0
655

HR. Hati Yesus Yang Mahakudus (P)

Hosea 11:1, 3-4, 8c-9; Ef. 3:8-12, 14-19; Yoh. 19:31-37

Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus pada hakikatnya menunjuk pada peranan hati Allah yang begitu baik dan berbelas kasih kepada manusia sampai akhirnya berpuncak pada pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Selain itu, perayaan ini juga menunjukkan bagaimana Tritunggal berkarya dan mendorong manusia bertindak serupa dengan Allah dalam mendasarkan tindakan pada kehendak hati untuk mencapai makna dan nilai yang berkualitas dalam hidup sehari-hari.

Bacaan-bacaan hari ini juga menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang punya hati yang selalu sabar, penuh kasih, murah hati dan berbelas kasih ketika kita manusia tetap jatuh dalam dosa atau meninggalkan Dia. Bahkan, Allah tetap berusaha agar manusia hidup kendati Allah dipandang sebagai hanya pemenuhan kebutuhan manusia (Hos. 11:4bc). Tindakan Allah itu tidak hanya berhenti sampai di situ, melainkan tetap hadir melalui Roh-Nya yang tinggal dalam batin manusia (Ef. 3:16) yang dapat memberikan kesadaran bahwa Allah begitu mencintai manusia sehingga kita berani bertindak seperti Dia. Buah dari tindakan Allah nampak dalam diri Yesus ketika Ia wafat di kayu salib dan dari lambungnya keluar darah dan air sebagai lambang sakramen yaitu tanda dan sarana kita memperoleh keselamatan (Yoh 19:34). Karya Allah yang luar biasa itulah yang memberi hidup dan keyakinan yang luar biasa bahwa dalam Dia, kita memperoleh jalan masuk kepada Allah.

Itulah mengapa, peranan Allah ini menjadi ajakan pada kita untuk mendasarkan seluruh tindakan kita pada hati karena Roh-Nya ada dalam batin kita melalui suara hati yang benar. Hal itu dapat kita sadari bilamana kita memiliki kecerdasan spiritual untuk bisa mendengarkan apa yang diharapkan Allah dari kita. Kesabaran, penuh kasih, empati, belas kasihan adalah buah dari rahmat Allah bila kita dapat mendengarkan dan bertindak dengan tuntutan hati yang kita miliki. Semua itu dapat meyakinkan kita menemukan hidup yang bermakna bagi diri dan orang lain serta menjadikan kita disebut orang-orang yang berkualitas. Oleh karena itu, kita perlu memohon tuntunan Roh Kudus agar membuat hati kita berkobar-kobar seperti Hati Yesus dalam setiap hidup dan karya kita di tengah keluarga, masyarakat dan Gereja agar tetap setia hidup menurut tuntutan Roh Allah yang ada dalam diri kita.

(Fr. Edo Salilo)

Hatiku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak” (Hos. 11:8c).

Marilah berdoa:

Ya Hati Yesus yang Mahakudus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here