“Kasih yang Sempurna”: Renungan, Selasa 9 Juni 2021

0
708

Hari Biasa Pekan X (H)

2Kor. 3:4-11; Mzm. 99:5,6,7,8,9; Mat. 5:17-19

Dalam bacaan Injil dikisahkan Yesus menjelaskan mengenai kehadiran-Nya di dunia ini sebagai penggenapan hukum Taurat. Poin penting yang hendak Yesus sampaikan adalah bagaimana memahami Yesus dan hukum Taurat. Banyak orang belum paham bagaimana hukum Taurat dihadirkan sebagai kerangka bagi kehidupan orang-orang Yahudi pada masa itu agar terciptannya keteraturan dalam hidup sebagai bangsa yang dipilih oleh Tuhan. Yesus sendiri mengajarkan hukum yang paling utama di dunia ini, yakni hukum cinta kasih. Bagi Yesus kasih adalah yang utama. Hal ini kemudian sering menjadi pertentangan, apakah kehadiran Yesus menjadi ancaman bagi hukum Taurat yang telah lama dihidupi oleh orang Yahudi. Jawabannya adalah tidak. Yesus justru datang ke dunia sebagai pemenuhan kehendak Allah. Kehadiran Yesus justru sebagai penggenapan dari segala hukum yang berlaku di dunia ini. Karena Yesus adalah sumber cinta kasih bagi setiap orang yang percaya pada-Nya. Kasih berada di atas segala-galanya. Maka dari itu kehendak Bapa yang terpatri dalam pribadi Yesus merupakan satu-satunya hal yang sempurna di dunia ini. Allah menghendaki agar semua orang memperoleh keselamatan kekal yang hanya ada pada Allah. Lewat kehadiran Yesus, kita menerima cinta kasih yang menyelamatkan. Yesus yang pada saatnya menderita dan kemudian wafat di kayu salib adalah lambang kasih yang sempurna untuk keselamatan umat manusia. Semua ini dapat terjadi karena kehendak dari Allah yang secara nyata hadir di tengah-tengah kita. Putera-Nya sendiri menjadi kegenapan kasih yang sempurna.

Bacaan pertama juga melukiskan bagaimana kehendak Allah adalah yang utama. Rasul Paulus menegaskan bagaimana pelayan-pelayan perjanjian yang baru harus setia kepada hukum yang berasal daripada Roh. Karena hukum yang berasal daripada roh itu mengatasi segalanya. Melalui hukum-Nya, kebenaran sejati menyempurnakan segala sesuatu yang hidup dari hukum tersebut. Sebab Tuhan adalah Roh, di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

Kita pun seringkali terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi dengan segala ketentuannya yang berlaku dalam kehidupan modern ini. Tanpa kita sadari, ada hal yang lebih penting yang berasal daripada Tuhan dan harus kita dengarkan, hayati dan kita terima sebagai kasih yang menyelamatkan. Mari kita bermenung sejenak untuk menuntun hati kita agar tetap terarah pada Tuhan sumber segala kesempurnaan.

(Fr. Marcelino Ronaldo)

“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5: 17b).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga aku selalu mau menjadi pelayan yang setia, dan hanya dalam kemuliaan-Mu aku menemukan satu-satunya kesempurnaan bagi hidupku di dunia ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here