Refleksi:”Doa, Usaha dan Kerja Keras”

0
319

Setiap orang mempunyai panggilan hidupnya masing-masing. Sejak mula, manusia diciptakan secitra dan segambar dengan Allah. Setiap Manusia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya yakni akal budi dan kebebasan. Dengan akal budi dan kebebasan, manusia memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri jalan hidup panggilannya.

Panggilan hidup itu beragam. Masing-masing dari kita memilih dan memutuskan sendiri mau menjadi seperti apa, atau menghidupi panggilan hidup seperti apa. Saya adalah seorang frater. Panggilan hidup saya ialah menghidupi panggilan sebagai seorang calon imam. Sebab saya adalah seorang calon imam yang kelak menjadi imam. Merefleksikan tentang tema perjuangan menjaga dan menghidupi panggilan di masa pandemi ini, mengingatkan saya akan awal mula perjalanan panggilan saya sebagai seorang calon imam. Terlepas dari adanya pandemi, awal mula perjalanan panggilan saya bisa dikatakan berliku-liku. Banyak cobaan dan tantangan dalam berbagai segi kehidupan yang harus saya hadapi untuk tetap berada dalam jalan panggilan ini.

Lantas, bagaimana cara saya menghadapi berbagai cobaan dan tantangan tersebut? Cara saya memperjuangkan dan menghidupi panggilan saya? Jawabannya ialah melalui doa, usaha dan kerja keras. Ketika saya dihadapkan dengan masalah, cobaan atau tantangan, hal pertama yang saya lakukan ialah “lari” ke Tuhan lewat doa. Saya selalu “curhat” ke Tuhan tentang kehidupan saya, tentang masalah-masalah hidup yang saya lewati, tentang rencana-rencana baik yang akan saya lakukan, tentang perasaan-perasaan yang saya rasakan, dan lain-lain. Melalui doa, saya kemudian berkomitmen untuk berusaha dan bekerja keras dalam mengatasi berbagai masalah, cobaan atau tantangan yang ada. Setiap keheningan yang tercipta dalam doa, membantu saya untuk mendapatkan jalan keluar. Saya bisa berpikir secara jernih. Dengan demikian, berbagai inspirasi atas permasalahan hidup yang ada mulai bermunculan. Dan pada kesempatan itulah saya menyempatkan diri untuk berkomitmen. Sebab saya percaya bahwa, kekuatan doa merupakan jawaban yang kuat atas permasalahan hidup saya.

Sejak virus Corona mewabah di Kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 hingga sekarang ini, saya masih tetap dengan cara saya mengatasi, memperjuangkan dan menjaga panggilan saya dari berbagai cobaan dan tantangan yang ada termasuk adanya Covid-19. Doa selalu menjadi yang pertama. Kemudian diikuti oleh berbagai instrumen lain seperti menaati prosedur kesehatan: memakai masker, jaga jarak, dan mencuci tangan. Menaati protokol kesehatan yang ada tentunya harus dibarengi pula dengan usaha dan kerja keras sehingga terhindar dari virus Corona. Situasi ini pun menjadi kesempatan bagi saya untuk selalu meluangkan waktu untuk merenungkan panggilan hidup ku.

(Fr. Devri Maturbongs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here