“Pembawa Berkat“: Renungan, Selasa 8 Juni 2021

0
826

Hari Biasa Pekan X (H)

2Kor. 1:18-22, Mzm. 119:129,130,131,132,133,135; Mat. 5:13-16

Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti pernah merasakan penolakan, dijauhkan bahkan dibenci oleh orang lain. Terkadang kehadiran kita tidak membawa kebahagiaan bagi orang lain melainkan ketidaksenangan bagi orang tersebut. Menjadi diri sendiri merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita, namun terkadang juga menjadi diri sendiri membuat kita dijauhi oleh orang lain. Hal ini mau mengatakan bahwa kehidupan kita belum bermakna bagi orang lain.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Bacaan-bacaan kita hari ini mau mengingatkan kepada kita mengenai siapa jati diri kita yang sebenarnya. Pada bacaan pertama, surat kedua Rasul Paulus kepada umat di Korintus mau mengatakan kepada kita bahwa dalam hidup kita, sesungguhnya Allah sendiri sudah memateraikan dalam diri kita yaitu Roh Kudus sebagai tanda bahwa kita adalah milik Allah. Melalui Yesus maka kita terhubung dengan Allah yang telah mengurapi kita. Rasul Paulus mau mengatakan bahwa Roh Kudus yang tinggal dalam diri kita, mau menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya yaitu penuh dengan cinta kasih. Sehingga hendaklah hidup kita juga membawa kasih bagi orang lain. Hal ini juga dijelaskan kembali pada bacaan Injil, di mana  dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk bisa menjadi garam dan terang bagi dunia. Apa maksud dari perkataan Yesus ini? Yesus mau mengajak kita untuk bisa menjadi pribadi-pribadi yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Kendati kita sering ditolak oleh orang lain, namun Yesus tetap menegaskan kepada kita bahwa hidup kita haruslah bermakna bagi sesama. Penolakan adalah hal yang biasa bagi para pengikut Kristus. Namun sebagai pengikut Kristus juga tidak boleh putus asa dan menyerah, melainkan kita harus berjuang menjadi garam yang memberikan rasa dalam kehidupan, dan menjadi terang dalam kegelapan hidup ini.

Baiklah kita merefleksikan pertanyaan-pertanyaan ini: Sudahkah hidup kita bermakna bagi sesama? kuatkah kita menghadapi penolakan hidup ini? Jika belum, marilah kita berbenah diri kita, dengan bantuan Roh Kudus, maka kita bisa menjadi garam dan terang bagi sesama.

(Fr. Randy Tirukan)

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa mu yang di surga“
(Mat. 5:16)

Marilah berdoa:

Tuhan, jadikanlah aku pembawa berkat bagi semua orang, dan buatlah hidupku berarti bagi sesama. Amin

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here