“Panggilan Untuk Berpartisipasi Dalam Pewartaan”: Renungan, Jumat 14 Mei 2021

0
505

Pesta St. Matias (M)

Kis. 1:15-17, 20-26; Mzm. 113:1-2, 3-4, 5-6, 7-8; Yoh. 15:9-17

Dalam setiap konteks yang kita hadapi, tentu ada berbagai macam hal yang menjadi panutan untuk mengambil sebuah keputusan yang pasti agar meyakinkan kita, bahwa hal yang telah menjadi keputusan kita, bukan menghasilkan hal yang buruk. Seperti bunyi kalimat yang mengatakan “Hasil tidak pernah mengkhianati proses”. Oleh karena itu, yang harus dilakukan terlebih dahulu ialah menikmati hidup sambil melewati proses, yang mana suatu proses tersebut akan menghantar bahkan meyakinkan kita pada sebuah hasil yang memuaskan.

Saudara/i yang terkasih, menjadi pengikut Yesus memang tidak mudah. Banyak hal yang harus kita lakukan agar bisa menjadi pengikut-Nya yang setia, karena itu kita sebagai orang-orang yang terpilih harus berjuang dalam menjalani kehidupan. Bacaan pertama mengisahkan tentang Matias yang dipilih menggantikan Yudas Iskariot sebagai murid Yesus. Matias adalah seorang yang amat baik bahkan pewarta yang mampu menarik perhatian banyak orang untuk percaya pada Sabda Allah. Itu semua ia lakukan karena pada dasarnya ia sudah percaya dan memiliki iman yang kuat, sehingga di setiap pewartaannya pada orang banyak, ia yakin bahwa Yesus pun hadir dan menuntunnya.

Injil Yohanes dengan sangat menarik mengisahkan tentang hal mengasihi sesama. Tentu hal tersebut berkaitan dengan kehidupan nyata kita setiap hari. Bagaimana sebagai orang yang beriman dan memiliki rasa peduli harus bersabar dalam menghadapi tantangan bahkan cobaan. Contohnya, ketika orang lain merencanakan hal buruk kepada kita maka tidak seharusnya kita membalas juga dengan perbuatan buruk melainkan kasihilah dia sama seperti yang disabdakan dalam Kitab Suci. Hal mengasihi bukan saja berlaku bagi mereka yang berbuat dosa tetapi bagi siapa saja atau seluruh manusia, ia harus tahu mengasihi bukan hanya dikasihi. Pengorbanan yang dilakukan Yesus mau mengingatkan kita bahwa memang berkorban bagi banyak orang demi sebuah kasih itu membutuhkan kesetiaan dan keikhlasan.

Kendati demikian, mari, saya mengajak kita sekalian untuk mengambil sikap rendah hati kepada siapa saja. Yakinlah bahwa di mana kita berada di situ pula Tuhan hadir untuk menyertai kita. Hadirlah di tengah banyak orang sebagai pengikut Yesus yang mampu mengasihi sesama dan berani mewartakan kabar sukacita.

(Fr. Stanislaus Lerebulan)

“Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh. 15:17).

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, tumbuhkanlah rasa kasih dan berani dalam diriku. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here