“Perutusan”: Renungan, Kamis 13 Mei 2021

0
480

Hari Raya Kenaikan Tuhan (P)

Kis. 1:1 – 11; Mzm. 47:2 – 3; 6 – 7; 8 – 9; Ef. 1:17 – 23 atau Ef. 4:1 – 13; Mrk. 16:15 – 20.

Saudara terkasih, hari ini seluruh umat Gereja Katolik merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. “Yesus Terangkat ke Surga…naik ke Takhta Bapa-Nya…” dikumandangkan dalam lagu yang menyemarakkan perayaan hari ini. Peristiwa kenaikan Yesus ke Surga digambarkan dengan jelas dalam Kisah Para Rasul pada bab yang pertama. Setelah kebangkitan-Nya, yang kita rayakan pada Hari Raya Paskah, Tuhan Yesus beberapa kali mendatangi para murid dan menyapa mereka. Menarik bahwa sebelum kenaikan-Nya ke surga, Yesus mendatangi para murid-Nya lagi dan makan bersama mereka. Ketika itu Tuhan menjanjikan Sang Penolong Yang Lain, yakni Roh Kudus, yang akan mendampingi para murid sampai akhir zaman. Dengan janji ini, sebenarnya Tuhan Yesus secara resmi mempercayakan sebuah perutusan penting, yakni mewartakan Dia dan memberi kesaksian tentang kebenaran kepada segala bangsa.

Ada banyak tema yang boleh diangkat ketika merenungkan peristiwa kenaikan Tuhan Yesus yang indah dan luar biasa ini. Salah satu tema penting yang boleh diangkat yakni perutusan. Perutusan menjadi bagian dari peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Injil Markus dengan jelas menulis kata-kata Yesus: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” Penginjl Markus melanjutkan juga dengan memberi gambaran lebih rinci mengenai tanda-tanda orang yang percaya. Melalui tulisan Penginjil Markus ini, dapat dipetik dua hal yang menjadi inti dari tugas perutusan dari Tuhan.

Pertama, para murid, dan untuk sekarang ini berarti seluruh umat beriman, harus pergi ke seluruh dunia. Pergi di sini tidak hanya diartikan secara harafiah, yakni melakukan perjalanan ke suatu tempat, melainkan juga dapat diartikan keluar dari diri sendiri dan mau melihat sesama di sekitar kita. Perintah Yesus untuk pergi ini berarti: keluarlah dari dirimu sendiri, keluarlah dari kenyamanan diri dan keluargamu dan lihatlah sesama di sekitarmu; sadarlah, bahwa kamu tidak sendiri dan ada orang lain di sekitarmu.

Kedua, ketika sudah keluar dari diri sendiri dan pergi, tugas yang harus dibuat ialah mewartakan kebenaran dan keselamatan kepada setiap orang yang dijumpai, dan mengajak sebanyak mungkin orang melalui tutur kata dan perbuatan kita agar mereka mau dan mampu percaya kepada Tuhan agar mereka selamat.

Dua inti penting dari tugas perutusan di atas dengan sendirinya mau mengatakan bahwa tugas ini tidak mudah atau tidak boleh dianggap sepele. Dan Tuhan sungguh mengerti itu. Karena itu, Tuhan menjanjikan Sang Penolong, yakni Roh Kudus. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus dengan jelas menulis mengenai karunia Roh Kudus ini. Karunia Roh Kudus inilah yang hendaknya dipelihara agar kesatuan kita sebagai pengikut Kristus pun dapat terpelihara. Karunia Roh Kudus inilah yang membimbing baik para rasul, para nabi, para pemberita injil, para gembala dan para pengajar maupun seluruh umat beriman untuk sampai pada kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Allah yang menyelamatkan.

(Fr. Firovani Adikila)

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk. 16:15).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah kami dalam tugas perutusan kami sebagai murid-murid-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here