“Keterbukaan Hati”: Renungan, Selasa13 April 2021

0
618

Hari biasa pekan II Paskah (P).

Kis. 4:32-37; Mzm. 39:1ab,1c-2,5; Yoh. 3:7-15.

Setiap orang ketika berada dalam prinsip hidup yang keliru tentunya akan membuat mereka berada dalam situasi yang sulit untuk menerima pendapat orang lain. Prinsip yang keliru tersebut akan selalu membuat setiap orang akan mempertahankan pendapatnya sendiri yang salah dan tidak mau membuka hati untuk menerima pendapat orang lain dalam kehidupan bersama, karena ia menganggap bahwa pendapat orang lain itu masih keliru.

Bacaan pertama yang diambil dari Kisah Para Rasul, mengingatkan kita kembali tentang pentingnya makna kehidupan bersama. Sebagai makhluk sosial, tentunya kita harus membuka diri dan saling berbagi kepada sesama kita yang mengalami kesulitan hidup. Kita dituntun untuk tidak hidup berkelimpahan di atas penderitaan orang lain. Oleh sebab itu, kita harus menumbuhkan rasa kepekaan dalam diri kita masing-masing untuk melihat situasi kehidupan di sekitar kita. Kita harus saling menolong sesama kita yang dilanda kesusahan, bila kita punya kelebihan dalam hidup sehingga kita sama-sama mampu merasakan kebahagiaan yang pantas sebagai sesama manusia.

Injil hari ini mengisahkan tentang percakapan Nikodemus dengan Yesus. Pribadi Nikodemus ditampilkan sebagai pribadi yang keliru karena menganggap prinsip hidupnya sebagai orang Yahudi yang paling benar dan tidak mau menerima apa yang diajarkan oleh Yesus tentang makna kelahiran baru. Yesus berharap bahwa jika Nikodemus mau menerima dan memahami apa yang diajarkan Yesus, maka ia harus membuka hati dan bersikap rendah hati pula. Nikodemus harus merubah cara pandangnya yang masih keliru dan membuka cara pandang yang baru yang bersifat positif, sehingga ia akan diarahkan pada suatu pengetahuan yang bersifat terang dan jelas yakni tentang kehidupan baru yang dimaksud Yesus itu.

Dalam hidup kita sering tidak memiliki keterbukaan hati terhadap pandangan orang lain, karena kita merasa bahwa hal tersebut tidak sejalan dengan pemikiran kita. Dan pada saat itulah kita akan dikatakan sebagai orang yang keliru. Cara inilah yang membuat kita menjadi pribadi yang egois dan tidak menunjukkan penghargaan diri kita terhadap orang lain yang mungkin memiliki pendapat yang lebih benar dari kita. Hari ini Yesus mengajak kita membuka hati dan diri kita agar dapat menerima dan memahami sabda Yesus sendiri. Keterbukaan hati juga membantu kita agar dapat menerima sesama sebagai manusia yang berbeda suku dan agama.

(Fr. Richels Bavo Markindo)

Marilah Berdoa:

Ya Allah, berilah kami kekuatan agar kami mampu membuka hati untuk dapat menerima sabda-Mu, dan mengamalkannya dalam kehidupan kami. Amin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here