“Janji Yang Tak Diingkari”: Renungan, Jumat 22 Januari 2021

0
547

Hari Biasa (H)

Ibr. 8:6-13; Mzm. 85:8, 10. 11-12, 13-14: Mrk. 3:13-19

Setiap orang pasti merasa senang dan bahagia ketika mereka dijanjikan oleh orang lain suatu hal yang baik bagi diri mereka. Kebahagiaan ini pun akan semakin besar ketika janji itu ditepati pada waktu yang tepat pula. Namun, bagaimana jika janji itu tidak ditepati? Tentunya ada orang yang akan marah karena merasa ditipu dan hanya diberikan harapan yang palsu. Dengan demikian kepercayaan kepada orang itu pun akan ikut menghilang, sehingga apa pun yang akan dikatakan oleh orang itu kedepannya tidak akan ditanggapi serius oleh orang lain lagi. Tetapi, sikap yang tidak menetapi janji ini tidak berlaku bagi Allah yang sungguh-sungguh menyatakan janji-Nya dalam kehidupan setiap manusia.

Bacaan pertama menceritakan bahwa Allah sendiri telah menuliskan janji-Nya di dalam hati setiap manusia dan dengan begitu setiap manusia dapat lebih mengenal Allah serta hukum-hukum-Nya. Tidak seperti manusia yang kadangkala tidak menepati janji mereka, Allah malah senantiasa membarui janji-Nya kepada manusia, sehingga manusia dapat kembali untuk bersatu dengan-Nya lagi. Janji Allah ini juga menjadi tanda kasih-Nya yang besar bagi manusia di mana Ia juga berkata bahwa Ia tidak akan mengingat dosa-dosa manusia lagi. Hal ini berarti bahwa Allah mau mengampuni manusia yang sudah memutuskan untuk menjauhi diri-Nya dan tidak menepati janji yang telah mereka buat bersama-sama.

Dalam bacaan Injil, Allah pun meneruskan janji-Nya ini melalui perantaraan Yesus Kristus yang memanggil para murid-Nya. Lewat para murid Yesus, Allah mau membimbing dan melindungi umat manusia. Janji Allah ini mencapai puncaknya pada diri Yesus sendiri yang menjadi tanda keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Melalui kedua bacaan pada hari ini, kita semakin disadarkan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji yang telah Ia buat. Jika janji itu tidak terlaksana bukan berarti Ia tidak mau menepatinya, namun manusia sendirilah yang tidak mau menerimanya dan malahan bersikap acuh tak acuh seakan-akan ada hal yang lebih penting bagi diri mereka. Nanti ketika mereka merasakan akibatnya barulah mereka sadar akan perbuatan mereka. Oleh sebab itu marilah kita semakin sadar akan janji Allah yang telah terukir dalam diri kita masing-masing, sehingga kita pun dapat membuat diri kita semakin layak untuk menerima janji Allah itu dengan bertindak sesuai dengan perintah-perintah-Nya.

(Fr. Ronald Pata)

Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka” (Ibr. 8:12).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bimbinglah kami agar dapat menyadari janji-Mu di dalam diri kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here