“Percaya Kepada-Nya dan Bertekun Dalam Firman-Nya”: Renungan, Rabu 16 Desember 2020

0
539

Hari Biasa Pekan III Adven (U)

Yes 45:6b-8, 18, 21b-25; Mzm. 85:9ab10, 11-12, 13-14; Luk. 7:19-23.

Menjalani kehidupan sebagai seorang beriman, tentunya membuat manusia selalu percaya kepada Tuhan yang merupakan sumber dari kehidupan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian manusia yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Konsekuensinya, sebagian dari manusia yang percaya, secara lebih khusus umat kristiani, mulai ragu-ragu akan imannya. Mereka mulai mempertanyakan akan eksistensi Tuhan. Sebab, bukti karya-Nya tidak dapat dilihat secara nyata dalam kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa umat kristiani saat ini sedang mengalami degradasi atau kemerosotan akan imannya.

Yohanes Pembaptis yang dikisahkan dalam Bacaan Injil hari ini pun, sesungguhnya mengalami degradasi iman. Yohanes ragu dan mulai mempertanyakan, apakah Yesus adalah Mesias seperti yang dinubuatkan oleh para nabi. Dia ragu, sebab Mesias yang ada dalam paradigmanya merupakan seorang raja seperti Daud dan Salomo. Sehingga, Yesus yang tampil tidak sesuai dengan paradigmanya, membuat Yohanes pun menjadi ragu.

Selain Yohanes, umat Kristiani saat ini, yang tadinya percaya kepada Yesus pun, sesungguhnya kadangkala ragu-ragu akan imannya. Hal ini tentunya disebabkan oleh pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang sesungguhnya masih terbatas. Terutama bagi mereka yang belum mengalami secara nyata karya Yesus dalam kehidupan. Apalagi, jika permohonan-permohonan mereka yang mungkin sudah sejak lama didoakan, namun belum juga dikabulkan. Konsekuensinya, mereka mulai kecewa, ragu, bahkan tidak lagi percaya kepada Yesus.

Padahal, sebagai umat beriman, kita sesungguhnya harus selalu percaya kepada-Nya. Sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama bahwa Dia adalah Tuhan dan tidak ada yang lain. Bahkan, keadilan dan kekuatan, hanya ada di dalam Dia. Oleh karena itu, sebagai umat beriman, kita perlu untuk bertekun dalam firman-Nya. Sebab, melalui firman-Nyalah kita dapat semakin dekat dan mampu untuk mengerti akan kehendak-Nya. Sehingga, dalam segala situasi kehidupan apapun, keyakinan iman kita kepada-Nya tidak akan tergoyahkan sedikit pun. Karena, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yesaya bahwa “Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali”.

(Fr. Stanislaus Andris Laritmas)

“Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa” (Yes. 45:23).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah dan mampukanlah aku agar dapat mengerti setiap firman-Mu, sehinggga imanku kepada-Mu tetap kuat dan tak tergoyahkan. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here