“Jawablah”: Renungan, Minggu 23 Agustus 2020

0
554

Hari Minggu Biasa XXI (H)

Yes. 22:19-23; Mzm. 138:12a,2bc-3,6,8bc; Rm. 11:33-36; Mat. 16:13-20.

Saudara terkasih, ketika seseorang ingin menguji kebenaran tentang sesuatu, ia sering mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan objek yang hendak diuji. Pertanyaan-pertanyaan itu diarahkan untuk menggali sejauh mana orang itu mengenal atau mengetahui apa yang ditanyakan kepadanya. Jika pertanyaan-pertanyaan itu dijawab dengan baik maka ia dianggap pembawa kebenaran dan jika tidak menjawab dengan baik maka ia bisa dianggap sesat atau pendusta.

Dalam bacaan Injil, Petrus menegaskan tentang pengenalan imannya akan Yesus sebagai Mesias. Yesus bertanya kepada Petrus, “Menurutmu siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup”. Petrus memberikan jawaban yang sangat benar, tegas dan mendalam. Jawaban Petrus ini mewakili pengenalan imannya akan Yesus. Yesus sendiri sangat mengagumi jawaban Petrus, karena jawaban imannya tidak tergantung pada apa ‘kata orang’, atau ‘paksaan’, atau ‘dusta’, melainkan karena pengalaman dan pengenalan hidup harian bersama dengan Yesus. Ia mengenal dan memahami Yesus dengan segenap hati dan pikirannya sehingga ia mampu memberikan jawaban yang mulia dengan berkata, “Engkau Mesias Anak Allah Yang Hidup!”. Selain itu, Yesus menegaskan bahwa jawaban iman yang diberikan oleh Petrus bukanlah sebuah jawaban dari pribadinya sendiri, tetapi karena digerakkan oleh rahmat Allah.

Saudara terkasih, iman Petrus dipertanggungjawabkan dengan sungguh-sungguh. Berkat jawaban iman yang benar maka ia menjadi pendiri dan pemimpin Gereja Kristus. Pemimpin ajaran iman yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun, karena ia teguh, tegas dan kuat serta terus-menerus dirahmati oleh Allah. Apa yang dialami oleh Petrus itu juga yang dialami oleh Elyakim bin Hilkia. Ia dipilih oleh Allah untuk menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Ia dipilih oleh Allah karena rahmat dan kuasa-Nya. Hal itu disebabkan karena ia mau mengikuti kehendak Tuhan.

Saudara terkasih, kita yang sudah mengikuti dan diangkat menjadi anak-anak Allah, harus berani untuk membuktikan seberapa besar iman kita kepada Allah. Jawaban atau tanggapan iman sangat diperlukan untuk mengetahui kualitas beriman kita. Dalam memberi jawaban tentang kualitas iman, kita tidak perlu untuk dipaksa atau ikut-ikutan dengan orang lain, melainkan memberikan jawaban karena relasi personal dengan Allah. Mungkin juga dalam beriman kita ingin menyelami pengetahuan dan kebijaksanaan Allah, yang jalan-jalan dan keputusan-Nya tak terselami. Percayalah bahwa rahmat Allah selalu membuka hati dan pikiran kita untuk memberikan jawaban terhadap iman kita kepada-Nya.

(Fr. Berly Dianomo)

“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”(Mat. 16:16).

Marilah Berdoa:

Tuhan, bantulah kami dalam beriman. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here