“Orang Asing di Negeri Sendiri” Renungan, Senin 16 Maret 2020

0
1047

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U)

2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; 43:,4; Luk. 4:24-30

Nabi adalah seorang utusan Allah atau seorang yang menyampaikan apa yang dikehendaki Allah untuk dilakukan oleh manusia. Dia  bukan hanya menyerukan apa  yang diinginkan Allah untuk dilakukan manusia tetapi justru dialah yang pertama-tama melakukan hal itu, dengan kata lain nabi adalah teladan untuk semua orang.

Dalam bacaan Injil Yesus mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”. Kata-kata Yesus ini sesungguhnya ingin mengkritik cara pandang orang-orang di tempat asalnya tentang Dia. Tentunya di tempat lain banyak sekali orang begitu mengagumi, menghargai dan mengikuti apa yang Ia katakan, sebab segala sesuatu yang Dia katakan justru Dia yang pertama kali melakukannya.

Tetapi sayangnya di tempat asalnya sendiri justru berbanding terbalik. Mengapa demikian? Sebab meskipun mereka mengagumi-Nya karena banyak kata-kata yang indah diucapkan-Nya, mereka melihat Yesus hanya sebatas seorang anak tukang kayu (anak Yusuf) dan tidak melihat Yesus sebagai seorang yang diutus oleh Allah.

Sebetulnya banyak sekali karya-karya besar yang dilakukan oleh Yesus. Tetapi karena Dia adalah anak Yusuf seorang tukang kayu, maka orang-orang sekampung-Nya tidak memikirkan lagi hal-hal apa saja yang Yesus perbuat selama ini. Oleh sebab itu Yesus mengkritik mereka dengan menceritakan kisa dua nabi besar yaitu nabi Elia dan nabi Elisa dengan memberi catatan bahwa kedua nabi ini melayani orang-orang bukan Israel, karena bangsanya sendiri tidak terbuka terhadap karya pelayanan mereka.

Itulah yang sedang dialami Yesus. Ia juga tidak diterima oleh bangsanya sendiri. Dia juga akan menyampaikan pesan-Nya kepada orang luar. Hal ini membangkitkan amarah para pendengar sehingga mereka berencana membunuh-Nya dengan menolak-Nya ke dalam jurang tapi tak berhasil.

Yang menjadi pesan untuk kita saat ini yakni kita jangan seperti mereka yang hanya memandang Yesus dengan kaca mata manusiawi mereka. Jangan terbelenggu dengan latar belakang seseorang. Lihatlah apa yang ditampilkannya lewat kata, perbuatan, dan perjuangannya. Jika demikian maka kita akan memiliki hati, budi, dan mata yang terbuka, dan dapat menyaksikan serta menghargai banyak hal baik dan besar dalam hidup kita. (Fr. Rio Rumlus)

“Dan Kata-Nya Lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yaang dihargai di tempat asalnya” (Luk. 4:24).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami agar dapat memandang engkau bukan dengan kaca mata manusiawi kami tetapi dengan kacamata yang Engkau sendiri sediakan kepada kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here