“Menghargai”: Renungan, Selasa 28 Januari 2020

0
8006

Pw St. Tomas Aquino. ImPujG (P)

2Sam. 6:12b-15, 17-19; Mzm. 24 : 7,8,9,10 ; Mrk. 3:31-35

Salah satu sikap manusia yang sederhana namun sulit untuk dilakukan ialah sikap menghargai. Ketika seseorang tidak merasa dihargai,  ia akan merasa luka batin, direndahkan atau bahkan dilecehkan. Secara alami, manusia sangat membutuhkan penghargaan atau rasa berharga dalam hidupnya. Sikap menghargai adalah jembatan penghubung untuk masuk ke dalam kehidupan orang lain. Ketika kita menaruh penghargaan kepada orang lain, kita sedang membantu orang tersebut untuk melihat keberadaannya sebagai pribadi yang berharga di mata Tuhan. Bahkan tak jarang, orang mengalami titik balik perubahan hidup, karena dirinya merasa sangat dihargai dan dihormati.

Lalu, bagaimana dengan kehidupan Yesus? Dikisahkan dalam Injil Markus, saat orang-orang ingin mendengarkan pengajaran-Nya yang luar biasa dari Tuhan Yesus. Justru orang-orang yang paling dekat dan orang-orang yang paling dikasihiNya-lah, yang tidak dapat menghargai-Nya lewat pekerjaan yang sedang Ia lakukan. Dan orang-orang ini ialah keluarga Yesus sendiri. Secara spontan Yesus berkata, “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”. Di sini Tuhan ingin berpesan, bahwa menjadi bagian keluarga rohani-Nya adalah hal yang jauh lebih penting daripada hubungan manusia mana pun. Dan hubungan rohani itu didasarkan pada ketaatan kepada firman Allah itu sendiri.

Melalui sabda Tuhan yang kita dengarkan dalam Injil Markus, Yesus mau menempatkan diri kita yaitu seluruh umat-Nya untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya. Dengan kata lain, kalau saya melakukan kehendak Allah, kalau saya mengerjakan Firman Allah, maka saya adalah bagian dari keluarga Kristus. Artinya, menjadi Keluarga Kristus ditentukan dari ketaatan kita melakukan kehendak Allah dan perintah-perintah-Nya. Bisa saja kita telah menjadi umat-Nya bertahun-tahun, tetapi kita tidak taat pada kehendak Allah dan hidup dalam dosa, penuh dengan kemunafikan dan keserakahan. Kita sering kali hidup dalam keegoisan, selalu ingin menang sendiri, dan merasa benar sendiri.  

Dalam Kitab 2 Samuel, Daud yang dikisahkan dalam bacaan ini mau mempersembahkan korbannya bagi Allah tanpa memandang siapapun. Ia mau mempersembahkan korban untuk keselamatan seluruh bangsanya. Juga Yesus dalam Sabda-Nya menganggap bahwa siapapun yang mau melaksanakan sabda-Nya dialah saudara-Ku, dan ketika dianggap saudara pasti kita akan diselamatkan oleh-Nya.  Maka, melalui bacaan-bacaan ini, Yesus mau mengajak kita semua untuk mau menampilkan diri kita menjadi pribadi yang bisa menghargai.

(Fr. Tonny Kuntag)

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mrk. 3:35).

Marilah berdoa :

Ya Tuhan, arahkanlah aku agar dapat memperlakukan siapapun sebagai saudara-saudariku. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here