“Belajar Rendah Hati”: Renungan, Senin 27 Januari 2020

0
3944

Hari Biasa (H)

2Sam. 5:1-7,10; Mzm. 89:20,21-22,25-26; Mrk. 3:22-30

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita merasa dikucilkan, dijauhi, dan dimusuhi. Bahkan seringkali usaha yang baik dari diri kita untuk membangun hubungan dengan orang lain, tidak dihargai. Sering kali orang lain malah memberi respon negatif terhadap hal positif yang kita perbuat. Kecemburuan, kedengkian dan iri hati seringkali membuat hal positif dibalas dengan hal negatif.

Dalam Bacaan Injil, Yesus juga merasakan hal yang sama. Perbuatan dan perkataan baik Yesus malah dibalas dengan fitnah oleh orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Hal ini pasti sangat menyakitkan hati. Mereka malah menuduh bahwa Yesus sudah tidak waras lagi dan kerasukan setan. Tapi apa tanggapan Yesus? Dengan tenang Yesus memberi penjelasan logis. Bahkan Yesus mengampuni mereka yang menfitnah diri-Nya.

Tindakan Yesus ini menjadi teladan sempurna bagi kita. Mengajarkan kita tentang bagaimana sikap kita, ketika diri kita serasa direndahkan dan dikucilkan. Sikap Yesus ini mengajarkan kita tentang kerendahan hati. Dengan kerendahan hati kita dapat menepis segala tudingan dan hal negatif dari orang lain. Persoalannya adalah mampukah kita merendah hati disaat kita dimusuhi orang? Atau mampukah kita bersabar ketika kita terlibat cekcok dengan orang lain?.

Dalam hidup sehari-hari, kita malah sering tidak mampu untuk bersabar. Sulit bersikap rendah hati. Kecenderungan manusia adalah tidak mau kalah dari orang lain. Dalam Injil, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Dan inilah ciri khas hidup kristiani yang sejati. Artinya dengan menjadi rendah hati, kita mencerminkan kebaikan Tuhan kepada orang lain di sekitar kita. Rendah hati membantu kita untuk menghayati iman kristiani.

Maka ketika kita ada dalam pertengkaran dengan orang lain, atau ketika kita merasa dimusuhi orang lain, di situlah iman kita diuji. Apakah kita bisa meneladani sikap kerendahan hati Yesus?. Maka dari itu rendah hati juga menjadi perwujudan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Sebab iman kita bukan hanya sebatas teori, tapi juga harus diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. Dari tindakan Tuhan Yesus, kita belajar bahwa kejahatan tak perlu di balas dengan kejahatan. Tebarkanlah yang baik, maka dari hari ke hari kita dapat menghimpit kejahatan  dengan kebaikan, sampai saat di mana kebaikan meraja di bumi.

(Fr. Delviano Kapele)

“Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan” (Mrk. 3: 24).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, mampukan aku untuk dapat merendahkan hati dalam membangun relasi dengan orang lain, terlebih dengan Dikau. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here