“Mukjizat dan Percaya”: Renungan, Senin 18 November 2019

0
1426

Hari biasa (H)

1 Mak. 1:10,41-43,54-57,62-64; Mzm.119:53,61,134,150,155,158; Luk. 18:35-43

Sebuah lagu rohani dirilis tahun 2007 dan dinyanyikan oleh Maria Shandi. Dalam syairnya terdapat kalimat-kalimat manarik. “Dia mengerti, Dia peduli, persoalan yang kita alami. Namun satu yang Dia minta agar kita percaya. Sampai mukjizat menjadi nyata”. Dasar diciptakannya lagu ini bukan tanpa arti apa-apa. Lagu ini menunjukkan makna mendalam iman sang pencipta lagu akan Tuhannya. Satu hal yang paling penting bahwa mukjizat Tuhan pasti terjadi bagi yang percaya. Bagi orang yang beriman kepada-Nya. 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang peristiwa mukjizat penyembuhan yang dilakukan Yesus. Ada dua hal penting yang membuat mukjizat ini terjadi. Pertama, kehendak dan tindakan Yesus terhadap orang itu. Kedua, iman yang dimiliki si buta. Injil mengisahkan bahwa si buta tersebut tanpa ragu-ragu berteriak untuk disembuhkan. Dia pun tidak merasa malu terhadap banyak orang. Bahkan ditegur sekalipun ia semakin keras berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”. Iman inilah yang membuat dia dapat melihat. Hal terpenting dari peristiwa ini sebenarnya bukan hanya sebatas membuka mata jasmani si pengemis buta.  Melainkan juga membuka mata rohani baginya dan semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Hasilnya, semua orang yang menyaksikan peristiwa ini serentak memuji dan memuliakan Allah.

Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini memberikan pencerahan bagi kita semua. Tindakan Yesus yang sangat peduli terhadap lingkungan sosial-Nya membuat suasana semakin hidup. Karena mukjizat yang Ia lakukan. Peristiwa ini pun membawa dampak baik karena orang-orang yang mengikuti-Nya semakin bertambah banyak. Berefleksi dari peristiwa ini kita ajak untuk berani membuka mata hati orang lain yang belum melihat kebenaran. Berani bertindak menunjukkan hal-hal baik agar orang lain dapat melihat terang yang berasal dari Allah sendiri. Dengan demikian kita semua dapat mengambil bagian dalam pribadi Yesus. Karena mampu membuat mukjizat dalam kehidupan keseharian kita. Belajar juga dari iman si buta yang mau membuka diri, membuka hati, menaruh pengharapannya kepada Yesus. Inspirasi dari kedua pribadi yang ditunjukkan dalam Injil hari ini kiranya kita semua semakin menjadi pribadi-pribadi yang tetap peduli terhadap orang lain di sekitar kita. Sehingga kita pun semakin serupa dengan Kristus yang dalam bait pengatar Injil dikatakan, “Akulah terang dunia barang siapa mengikuti Aku, Ia akan mempunyai terang hidup”.

(Fr. Ferdianus Poida)

“Lalu kata Yesus kepadanya, melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk. 18:42)

Marilah berdoa:

Tuhan Yesus, tambahkanla iman kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here