“Kerajaan Allah Tidak Jauh”: Renungan, Kamis 14 November 2019

0
1669

Hari biasa (H)

Keb. 7:22-8:1; Mzm. 119: 89. 90, 130, 135, 175; Luk. 17:20-25

Dalam hidup sehari-hari, kita pasti pernah mengalami dan merasakan kedamaian, kebahagiaan, ketenangan dalam diri. Semuanya itu kita alami secara nyata. Hal itu membuat kita sering mengucap syukur dalam doa dengan berkata, “Terima kasih Tuhan atas kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan yang saya terima dan alami hari ini”. Ketika kita mengalami semuanya itu, sesungguhnya kita sementara berada dalam Kerajaan Allah. Bagaimana itu bisa terjadi?

Dalam Bacaan Injil, ketika Yesus berhadap dengan orang-orang Farisi, Ia menjelaskan bahwa Kerajaan Allah tidak jauh dari manusia. “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:21b). Yesus berusaha memberikan suatu pemahaman tentang  Kerajaan Allah. Menurut-Nya kita tidak perlu memertanyakan di mana Kerajaan Allah itu berada. Lebih dari itu, Yesus ingin agar kita menyadari bahwa Kerajaan Allah itu sungguh nyata dan sementara kita alami. Ketika kita bersama dengan-Nya kita merasakan kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan. Hal itu menunjukkan bahwa kita sementara berada dalam suasana Kerajaan Allah.

Bagaimana kita mengetahui bahwa pengalaman yang kita alami merupakan Kerajaan Allah? Manusia memiliki akal budi. Akal budi membantu manusia untuk bersikap bijaksana.  Oleh karena itu, manusia dapat membedakan mana kebahagiaan yang bersifat kekal dan  yang bersifat sementara. Misalnya, seseorang berhasil menjual semua jualannya maka timbul perasaan bahagia dalam diri. Itu tidak salah. Tetapi kebahagiaan yang dirasakan hanyalah sementara. Alasannya, karena ketika jualannya tidak terjual maka kebahagiaan itu hilang bahkan kemungkinan besar tergantikan dengan rasa khawatir, “jangan-jangan hari berikutnya jualan saya tidak laku lagi”. Sangat berbeda dengan kebahagiaan yang dialami karena berada bersama dengan Tuhan. Misalnya, ketika kita mengikuti Perayaan Ekaristi dan menerima Komuni kudus, kita merasakan bahwa Yesus ada bersama-sama dan berada dalam diri. Hal itu karena Yesus telah menyatu dengan diri kita. Dengan demikian terciptanya kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan dalam diri. Lebih dari itu, kita secara nyata mengalami Yesus. Itu berarti kita mengalami Kerajaan Allah.

Umat yang dikasihi Tuhan, sesungguhnya kita semua tidak jauh dari Kerajaan Allah. Yesus sendiri telah mengatakan itu kepada kita. Kerajaan Allah ada di sekitar kita. Dengan mendekatkan diri kepada-Nya, kita dapat mengalami kebahagiaan, kedamaian dan ketenangan dalam diri. Pertanyaannya, dalam hidup sehari-hari, apakah kita ingin selalu mengalami Kerajaan Allah itu?                                                          

 (Fr. Jefry Lumentut)

“Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:21b)

Marilah berdoa:

Ya Bapa, buatlah aku selalu ingin mengalami Kerajaan-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here