“Berjalan Bersama Yesus”: Renungan, Minggu 8 September 2019

0
4257

Hari Minggu Biasa XXIII (H)

Keb. 9:13-18; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm. 9b-10,12-17; Luk. 14:25-33.

Kitab Kebijaksanaan memaklumkan: “Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan? Pikiran segala makhluk yang fana adalah hina dan pertimbangan kami ini tidak tetap. Sebab jiwa dibebani badan yang fana, dan kemah dari tanah memberatkan budi yang banyak berpikir”.

Kutipan ini mau menunjukkan bahwa tiada satu pun manusia di dunia ini yang sempurna. Setiap manusia yang tinggal dan hidup di dunia ini adalah makhluk yang penuh dengan kelemahan. Pun demikian, pengharapan dan kekuatan dari manusia hanyalah satu yakni Tuhan. Itulah yang telah diserukan oleh Kitab Kebijaksanaan pada hari ini.

Bacaan Injil hari ini bercerita tentang syarat untuk mengikuti Yesus. Yesus dengan tegas mengatakan: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Pun Yesus menegaskan: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”.

Hal ini mau menunjukkan bahwa setiap manusia dengan kemandiriannya harus berjuang untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah. Manusia harus berjuang dengan segenap hati mereka untuk mengikuti jalan salib mereka. Pun begitu manusia harus sadar, tahu dan mengerti bahwa mereka adalah makhluk yang tidak sempurna. Dengan kata lain manusia adalah makhluk yang lemah, jika hanya mengandalkan kekuatan mereka.

Manusia harus mengerti dengan baik bahwa hanyalah Tuhan yang bisa membantu mereka di dalam penderitaan mereka ini. Apalagi dalam menapaki jalan salib mereka. Untuk itulah, pemazmur hari ini dengan tegas mengumandangkan, “Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: ‘Kembalilah hai anak-anak manusia!’ Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu”.

Kita orang Kristen hendaknya sangat tahu dan mengerti bahwa hanyalah Tuhan satu-satunya penolong dan pengharapan di dunia ini. Kita sepatutnya datang kepada Tuhan, jika sedang mengalami cobaan, derita atau pun luka yang sangat susah disembuhkan. Peneguhan hanya ada pada Tuhan. Dan untuk itulah, pemazmur berkata, “Kembalilah, ya Tuhan berapa lama lagi? dan sayangilah hamba-bamba-Mu!”

Jalan salib kita akan menjadi ringan jika kita bersama-sama dengan Tuhan. Mengikuti Yesus tidak susah, jika kita bersama-sama dengan-Nya.

(Fr. Dkn. Koresta Lila)

 “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk. 14:27).

Marilah Berdoa:

Tuhan, bantulah aku dalam menapakki jalan salibku. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here