“Yesus Seorang Politikus”: Renungan, Sabtu 17 Agustus 2019

0
946

HARI RAYA KEMERDEKAAN INDONESIA (P)

Sir. 10:1-8; Mzm. 101: 1a,2ac, 3a,6-7; 1Ptr. 2:13-17; Mat. 22: 15-21

Sejarah membuktikan bahwa Gereja pernah  terlibat aktif dalam aspek politik. Gereja bersatu dengan negara secara utuh. Kepentingan negara menjadi kepentingan Gereja. Tidak ada suatu distingsi antara Gereja dan negara. Situasi demikian menimbulkan problem besar bagi Gereja sendiri. Konsekuensinya, Gereja kehilangan orientasinya. Berhadapan dengan keadaan demikian, ada sebuah rekonstruksi dari pelbagai pihak. Akhir dari semua pergolakan demikian adalah perpecahan dan lahirlah Gereja protestan. Kesadaran Gereja dengan keadaan ini berpuncak pada konsili Vatikan ke-II.

Sabda Tuhan hari ini menampilkan pribadi Yesus sebagai tokoh politik sejati. Hal demikian nampak dalam ungkapan “berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Dari pernyataan ini Yesus hendak memberikan sebuah distingsi-kognitif bagi kita. Artinya, Yesus mengajak kita untuk benar-benar mampu membedakan antara kepentingan manusia yang harus ditaati dan urusan Tuhan yang harus kita perhatikan. Keduanya bukan hal kontradiktif. Keduanya harus mampu kita bedakan dengan jelas  dan tidak boleh dipertentangkan.

Bukan hanya dalam bentuk pengetahuan tetapi juga dalam bentuk praktis. Yesus benar-benar terlibat dalam kehidupan politik-etis dengan menyampaikan kabar baik kepada kaum miskin, pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang buta dan pembebasan bagi orang-orang tertindas. Politik hati nurani, politik kesehjateraan, politik nilai, politik pengorbanan dan pelayanan menjadi warna utama perjuangan Yesus.

Yesus menghayati diri sebagai warga negara yang baik. Ia tidak menentang melainkan turut membayar pajak sesuai dengan aturan atau kebiasaan yang berlaku. Sikap demikian mesti menjadi model kehidupan kita manusia yang tidak lepas dari aspek politik. Yesus mesti menjadi model politik kehidupan umat beriman.

Politik selalu bersentuhan dengan hidup kita. Oleh sebab itu, kita diajak untuk memaknai kehidupan politik dengan sungguh. Misalnya seperti yang dilakukan Yesus selama tugas perutusan di dunia. Menjadi pelaku keadilan, kebenaran, kebaikan dan seterusnya. Pelbagai tindakan demikian akan memberikan sebuah identitas kepada kita sebagai pengikut tokoh politik sejati, yaitu Yesus Kristus.

(Fr. Amatus Watkaat)

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21)

Marilah berdoa:

Tuhan, jadikanlah kami pelaku politik sejati. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here