“Belajar dari Anak Kecil”: Renungan, Selasa 13 Agustus 2019

0
1771

Hari biasa (H)

Ul. 31:1-8; Mzm. 32:3-4a,7,8,9,12; Mat. 18:1-5,10,12-14

Injil hari ini mengisahkan ajaran Yesus kepada para murid-Nya tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Ajaran ini berdasarkan pertanyaan dari para murid-Nya tentang “Siapa yang terbesar dalam kerajaan sorga?” Jawaban yang diberikan Yesus sungguh mengejutkan: “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga” (ayat 3-4). Mengapa harus menjadi seperti seorang anak kecil untuk masuk surga dan menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga? Bukankah anak kecil adalah warga kelas dua dalam masyarakat? Bukankah mereka selalu dilecehkan dan tak berdaya apa-apa serta selalu dianggap sebagai beban? Namun, mengapa Yesus justru memakai anak kecil, bukan yang lain?

Seorang anak kecil itu mudah dibentuk dan diajar, mudah mengampuni dan melupakan kesalahan, percaya pada orang tuanya tanpa mengukur atau mengetesnya terlebih dahulu. Tidak ada niat jahat sama sekali dalam hati mereka. Mereka tidak merasa kuatir dengan hidup ini. Tidak khwatir dengan apa yang akan mereka makan esok hari. Mereka hanya tahu dan percaya bahwa itu semua akan disediakan oleh orang tuanya. Tiada lain sandaran mereka selain papa dan mamanya.

Nah, sifat-sifat dari anak kecil seperti inilah yang dimaksud oleh Yesus. Dalam hal ini, kerendahan hatilah yang dituntut Yesus. Hal inilah yang dipraktekkan oleh Yesus sendiri dalam tugas pelayanan-Nya yang total. Ia merendahkan diri-Nya menjadi sama seperti manusia dan taat kepada Bapa sampai mati di salib. Ia seperti anak kecil yang tak pernah mengeluh dan berdebat dengan kehendak Bapa. Kehendak Bapa bukan untuk diperdebatkan. Kerendahan hati dan ketaatan yang totallah yang dibutuhkan.

Menjadi seorang anak kecil bukan berarti mudah diombang–ambing hidupnya. Kita harus menjadi seorang anak kecil yang selalu menyandarkan semuanya kepada Bapa. Kita harus serahkan diri kepada Bapa: bahwa kita sedang diajar dan belajar untuk mencapai kesempurnaan menuju kebahagiaan abadi yaitu surga. Dengan begitu kita tidak menjadi domba-domba yang hilang, yang kemudian mati binasa. Percayalah dan serahkan semuanya kepada Bapa.

(Fr. Ignatius Kisa)

Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 1:3).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu yang lemah lembut dan rendah hati. Amin

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here