“Panggilan Penyelamatan”: Renungan, Jumat 5 Juli 2019

0
931

Hari Biasa (H)  

Kej. 23:1-4, 19; 24:1-8, 62-67; Mzm. 106:1-2, 3-4a,4b-5; Mat. 9:9-13

Dalam organisasi pemerintahan banyak ditemukan orang-orang pintar, dengan kelebihan atau potensi yang dapat diandalkan. Dengan tujuan untuk menyumbangkan pemikiran-pemikiran cemerlang dan konsep-konsep brilian demi membangun suatu pemerintahan, untuk mencapai kesejahteraan banyak orang. Selain itu, kehadiran orang-orang seperti ini dapat merubah suatu sistem pemerintahan yang salah atau kurang menguntungkan menjadi benar dan menguntungkan. Dengan kata lain, membahagiakan banyak orang. Karena jika orang-orang yang kurang pintar dan tidak mempunyai kemampuan dalam berorganisasi dipilih untuk duduk dalam jajaran pemerintahan, maka dinilai membahayakan.

Namun panggilan Matius pemungut cukai menjadi gambaran yang sangat jelas bagi kita, bahwa Yesus memilih orang berdosa dalam pandangan masyarakat Yahudi pada saat itu menjadi murid-Nya. Bukan berarti bahwa Yesus menjatuhkan harga diri Matius, melainkan mengangkatnya. Dari keberdosaan, Matius dipilih Allah dan turut ambil bagian dalam pewartaan kerajaan-Nya. Hal ini karena Matius menyadari keberdosaan-Nya dan percaya bahwa Yesus datang kepadanya untuk memberikan pemulihan atas seluruh hidup-Nya.

Yesus mau menunjukkan bahwa kedatangan-Nya ke dunia bukan untuk menghakimi mereka yang berdosa, melainkan menyadarkan kita dan mengangkat kita keluar dari lumpur dosa. Panggilan terhadap Matius, menyadarkan kita akan kedosaan kita, serentak menyadarkan kita untuk segera bertobat. Kedatangan Yesus bukan untuk menyelamatkan orang pintar, orang penting, melainkan menyelamatkan orang berdosa, yang sadar dan mau bertobat. Yesus berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit”. Pernyataan ini menyadarkan kita akan berharganya kita di hadapan-Nya.

Terlepas dari semua itu, maka panggilan serta kehadiran Yesus memberikan kesadaran bagi kita untuk menanggalkan dan meninggalkan cara hidup lama kita yang terikat dengan dosa dan mengenakan, serta menerima kehidupan baru yang terlepas dari ikatan dosa. Agar panggilan keselamatan yang ditawarkan Yesus benar-benar kita hayati dan maknai dalam kehidupan masing-masing. Adalah benar bagi kita untuk sadar akan setiap kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat, agar panggilan yang kita terima benar-benar tertanam dalam hati kita. Apakah kita sudah meninggalkan kebiasaan lama dan dengan sepenuh hati menjawab “ya” terhadap panggilan Allah kepada kita?

(Fr. Philipus Rahae)

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Mat. 9: 13).

Marilah berdoa:

Tuhan, mampukanlah aku untuk meninggalkan kebiasaan lama yang penuh dosa dan ajarlah aku untuk selalu peka terhadap panggilan-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here