“Damai Sejahtera-Ku”: Renungan, Selasa 21 Mei 2019

0
6826

Hari biasa Pekan V Paskah (P).

Kis. 14:19-18; Mzm. 145:10-11,12-13ab,21; Yoh. 14:27-31a.

Setiap orang pada dasarnya membutuhkan damai sejahtera. Damai sejahtera memiliki dua jenis yaitu damai yang dari Allah dan damai dari dunia. Damai sejahtera yang sejati adalah dari Allah sendiri dan damai itu tetap. Sementara damai sejahtera yang diberikan oleh dunia bersifat duniawi artinya bersifat sementara.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memberikan damai yang tetap itu kepada kita karena kedamaian dibutuhkan oleh setiap orang yang mau menerima tugas perutusan untuk mewartakan kabar gembira. Damai sejahtera ini diterima oleh para rasul sendiri dari Yesus untuk meneruskan kepada semua orang. Inilah tugas dasar yang diberikan oleh Yesus yang menginginkan manusia hidup bahagia.

Semua manusia pada umumnya mencari kebahagiaan. Tuhan menghendaki kebahagiaan sejati bagi kita semua, itulah kebahagiaan yang diajarkan oleh Yesus di dalam delapan Sabda bahagia. Sabda bahagia yang diajarkan oleh Yesus sesuai dengan kerinduan manusia untuk hidup bahagia. Kerinduan ini berasal dari Allah. Ia telah meletakkannya di dalam hati manusia, supaya menarik kita kepada-Nya, karena hanya Allah dapat memenuhinya. Allah sendiri ingin agar kita hidup bahagia.

Tetapi, Yesus sendiri mengatakan bahwa banyak orang lebih memfokuskan diri untuk mencari kebahagiaan dunia. Hal-hal yang bersifat dunia berarti hal-hal yang bersifat kedagingan. Karena itu, kedamaian dapat diperoleh kalau kita hidup menurut Roh. Sebab Roh itu bertentangan dengan hidup menurut daging. Hidup menurut daging antara lain pencabulan, hawa nafsu, dan lain-lain. Jika kita hidup seperti ini berarti kita menolak kedamaian yang Allah tetapkan dalam hati setiap orang. Orang yang hidup menurut Roh antara lain kasih, sukacita, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, serta penguasaan diri. Inilah cara hidup bagi kita yang ingin memiliki kedamaian yang sejati.

Yesus sendiri berpesan agar kita semua tidak gelisah, tetapi sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Sebab damai sajahtera yang ditawarkan oleh Yesus adalah damai sukacita secara rohani, bukan damai sukacita secara duniawi atau daging. Karena itu, jangan biarkan keadaan sekeliling yang mengatur kebahagiaan kita, jangan biarkan biarkan keadaan sekitar mencuri damai kita. Sebab damai Tuhan sudah menjadi milik kita. Dan jangan biarkan damai sejati itu hilang karena keinginan daging.

(Fr. Joe Titirlolobi)

“Damain sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh. 14:27).

Marilah berdoa:

Tuhan, teguhkanlah imanku agar aku benar-benar memiliki damai-Mu yang sejati. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here