“Belaskasihan”: Renungan, Sabtu 9 Februari 2019

0
1124

Hari biasa (H).

Ibr.  13: 15-17,20-21; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mrk. 6:30-34.

Tahun lalu terjadi bencana alam di kota Palu, Sulawesi Tengah. Banyak orang yang menderita bahkan banyak yang meninggal. Dari situ banyak orang menaruh perhatian dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mendoakan mereka, ada pula yang memberikan bantuan jasmani. Orang yang mampu berbelas kasih kepada orang lain, berarti orang yang mampu keluar dari dirinya, dari kepentingan pribadinya, lalu mengarahkan hati dan pikirannya kepada orang lain.

Dalam bacaan Injil dikisahkan tentang Yesus, yang tergerak hati-Nya oleh belas kasihan saat melihat orang banyak yang selalu mengikuti-Nya. Ketergerakan hati Yesus dikarenakan mereka seperti kawanan domba yang memerlukan gembala yang bisa membimbing dan melindungi mereka. Sehingga dengan begitu, Yesus tidak berdiam diri sebagai seorang gembala yang baik, di mana Ia memberikan suatu pengajaran, kemudian memberikan peneguhan dan arahan. Selain itu Yesus juga tidak membiarkan orang banyak itu kelaparan. Ia mengajak para murid untuk memberi mereka makan.

Namun para murid mengeluh, cemas dan gelisah, karena tidak ada makanan yang dapat mencukupi orang banyak itu apalagi hari mulai gelap. Sehingga para murid memberi usulan kepada Yesus agar menyuruh orang banyak itu pergi. Namun usulan para murid di tolak oleh Yesus, karena para murid tidak tahu apa yang menjadi tujuan utama mereka mengikuti-Nya. Yang menjadi tujuan orang banyak itu mengikuti Yesus bukan pertama-tama untuk mendapatkan makanan. Melainkan karena mereka merindukan seorang gembala yang baik yang mampu menghidupi mereka. Belaskasihan yang ditunjukkan oleh Yesus mau menunjukkan bahwa Dia tidak membiarkan orang-orang menderita kelaparan dan hidup tanpa pengharapan.

Saudara terkasih, tak jarang saat berhadapan dengan pilihan kita cenderung  lebih suka cari aman dari pada keluar dari zona aman diri kita. Kita tidak mau merepotkan diri dalam berbagai hal yang tidak berguna dan menguntungkan diri kita. Sehingga munculah pribadi yang egois, yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Sehingga kerap kali melihat sesamanya itu bukan lagi saudara melainkan sebagai saingan atau musuh.

Injil hari menginspirasi kita. Yesus menegaskan, mengingatkan serta menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan orang beriman adalah kehidupan yang terarah bukan pertama-tama kepada diri sendiri tetapi kepada sesama.

(Fr. Rewilianus Paisu)

“Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala”(Mrk. 6:34).

Marilah Berdoa:

Ya Bapa, anugerahkanlah aku hati yang peka dan mau berbagi dengan orang lain. Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here