“Berdoa dan Bekerja”: Renungan, Rabu 10 Oktober 2018

1
9243

Hari Biasa (H)

Gal. 2:1-2, 7-14; Mzm. 117:1,2; Luk. 11:1-4

Bagi orang beriman, doa adalah sarana untuk membangun serta memperkuat relasi dengan Allah. Hal itu diwujudnyatakan lewat sikap dan perbuatan. Sta. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus mengungkapkan, “Doa merupakan karya dari hati, bukan ungkapan bibir saja, karena Tuhan tidak memandang kata-kata, tetapi hati seseorang yang sedang berdoa”.

Dalam bacaan Injil dikisahkan bagaimana seorang murid meminta kepada Yesus untuk mengajarkan doa kepada mereka. Yesus mengajarkan doa Bapa Kami seperti yang kita kenal sekarang ini.

Rumusan doa Bapa Kami terdapat pula pada Injil Matius. Dalam doa tersebut, terdapat tujuh pujian dan tujuh permohonan. Tiga pujian pertama lebih terarah kepada Bapa sendiri, yakni nama-Mu, kerajaan-Mu, kehendak-Mu. Empat pujian berikut merupakan permohonan: berilah kami, ampunilah kami, janganlah masukkan kami, bebaskan kami.

Permohonan keempat dan kelima merujuk pada kebutuhan kehidupan manusia, yakni harus dikuatkan dengan makanan dan disembuhkan dari dosa. Dua permohonan terakhir di dalam doa Bapa Kami lebih menyangkut perjuangan manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Berdoa berarti bukan sekedar berkata-kata tetapi mampu menghidupinya. Allah memberikan dan manusia berusaha mendapatkannya. Mengerjakan apa yang didoakan dan mendoakan apa yang dikerjakan. Lewat doa, para murid mendapatkan kekuatan. Artinya mereka tidak hanya berdoa saja tapi menerapkannya dalam tugas pewartaan.

Berdoa dan bekerja merupakan dua hal yang sangat berhubungan. Jika kita berdoa, kita akan dimampukan untuk bekerja. Pada akhirnya, kita akan menemukan, kita akan diberikan, dan kita akan dibukakan pintu keselamatan.

Berdoa dan bekerja akan lebih bermakna jika kita hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran berarti melakukan apa yang wajib dilakukan baik bagi diri kita ataupun bagi orang lain. Kebenaran hidup itulah yang menjadi kesaksian kita bagi orang lain. Yesus pun menghendaki hal itu.

Kita dapat belajar dari kesaksian hidup Paulus. Ia menjalankan tugas sebagai pewarta kepada mereka yang bukan Yahudi. Dalam tugasnya itu, ia senantiasa bekerja keras. Hal itu nampak dalam ungkapannya ketika berada bersama Petrus dan para pemimpin jemaat. “Supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha”. Hidup sebagai orang benar berarti bekerja sesuai tugas dan tanggungjawab yang diberikan serta menghayatinya di dalam doa.

(Fr. Mogi Saelong)

“Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” (Luk. 11:1)

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarilah kami untuk selalu berdoa. Amin.

1 KOMENTAR

  1. Salam kasih,
    Terima kasih renungan pagi ini yang sangat mengguggah hati.
    Bagaimana caranya saya bisa mendapatkan/langganan renungan harian lentera jiwa?
    HP/WA: 081236872822

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here