“Memberi Diri”: Renungan, Rabu 11 Juli 2018

0
1708

Pw St. Benediktus Abbas

Hos. 10; 1-3,N 7-8,12; Mzm. 105: 2-3,4-5,67; Mat. 10:1-7

Selama perang kemerdekaan tentara-tentara rakyat yang luka dirawat di pelbagai rumah sakit. Waktu itu, banyak pemerhati mengunjungi para prajurit yang luka itu dan menghibur mereka. Seorang ibu berhenti di tepi tempat tidur seorang anak muda yang baru kembali dari medan pertempuran.

Pemuda pejuang itu sudah tidak memiliki tangan kirinya. Si ibu dengan rasa sedih bertanya kepada pemuda itu, “Dimanakah kamu kehilangan tanganmu?”. Dengan bersemangat pemuda pejuang itu menjawab, “Saya tidak kehilangan, saya memberikanya untuk ibu pertiwi”.

Memberi itu suatu perbuatan yang indah. Ia membahagiakan orang yang diberi dan juga orang yang memberi.

Hari ini dalam Injil kita mendengar kisah tentang pemberian diri kedua belas rasul. Pemberian diri ini tentu didasari oleh sebuah panggilan. Panggilan berarti sebuah ajakan untuk mendengarkan sabda dan pewartaan Yesus. Ketika para murid menanggapi panggilan ini, mereka menjadi semakin akrab dan dekat dengan Tuhan Yesus.

Sabda yang keluar dari mulut Yesus adalah sebuah perkataan yang kudus dan kekal, yang membawa damai dan kerukunan bagi banyak orang. Sabda dan tindakan Yesus inilah yang menguatkan mereka untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.

Hari ini juga Gereja secara khusus memperingati St. Benediktus Abbas yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada Yesus. “Carilah selalu wajah Tuhan” demikian kata pemazmur. Kata yang senada juga diungkapkan oleh St Benediktus Abbas, “Janganlah ada sesuatu yang diutamakan melebihi Kristus”.

St. Benediktus Abbas adalah seorang pertapa.  Panggilan hidupnya dipersembahkan secara total kepada Kristus. Ia dikenal oleh rekan-rekannya karena kebaikan, keramahan, dan kebijaksanaannya. Ia juga memilki prinsip hidup yang teratur dan disiplin. Mereka juga percaya bahwa ia memiliki kemampuan membuat mujizat.

Sebagai umat beriman kita diajak untuk meneladani sikap dan cara hidup dari tiga tokoh ini. Pertama, pemuda pejuang yang memberikan tangannya kepada ibu pertiwi. Inilah pemberian yang mendatangkan kebahagiaan bagi orang lain dan bagi dirinya.

Kedua, kedua belas murid Yesus yang berani mewartakan Kerajaan Allah. Kehadiran mereka menjadi warna yang indah bagi setiap orang yang mereka jumpai. Yang lemah dikuatkan dan yang sakit disembuhkan.

Ketiga, St. Benediktus Abbas yang menjadi teladan hidup bagi umat beriman melalui cara hidupnya yang teratur dan disiplin. Persembahan hidupnya yang total kepada Yesus sungguh pantas diteladani juga.

(Fr. Hubertus Hans Werit)

“Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kis. 20:35).

Tuhan, ajarilah aku untuk semakin rela memberi diri kepada sesama sepanjang jalan hidup ini. Amin.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here