“Pewarta Yang Berdaya Guna”: Renungan, Senin 11 Juni 2018

0
1516

Pw S. Barnabas, Ras (M).

Kis. 11:21b-26; 13:1-3; Mzm. 98:2-3ab,3c-4,5-6; Mat. 10:7-13.

Totalitas pemberian diri manusia bisa diwujudkan dengan banyak cara. Dalam bacaan pertama dikisahkan totalitas pemberian diri yang ditunjukan oleh Barnabas. Dia tidak menolak ajakan Paulus untuk mewartakan Injil. Barnabas diutus ke Anthiokia, dan dengan teladan yang baik serta dituntun oleh Roh, umat di Anthiokia berbalik ke jalan Allah. Bahkan ditempat tersebut, murid-murid untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kis 11:26b).

Barnabas merupakan sosok pewarta yang diunggulkan, sebab bukan hanya melakukan pewartaan di berbagai wilayah namun cara hidupnya yang saleh membuat orang-orang saat itu menjadi percaya kepada Allah.

Bacaan Injil yang kita dengarkan mengisahkan mengenai perutusan dua belas rasul. Perutusan yang dibuat oleh Yesus terhadap para muridNya merupakan bentuk perutusan yang berdayaguna, dimana berasal dari Yesus sendiri dan juga berguna bagi kehidupan banyak orang.

Perutusan yang berdayaguna itu ditunjukan melalui aksi nyata. Yesus mengutus para muridNya untuk mewartakan Injil dan sekaligus melakukan aksi nyata, yakni menyembuhkan orang yang terkena sakit kusta, dan mengusir setan. Perutusan yang dibuat oleh Yesus, menunjukan juga bahwa Yesus melibatkan manusia dalam pewartaan yang bercorak sosial. Yesus melibatkan para muridNya untuk selalu menjaga relasi antara manusia dengan diriNya. Relasi yang baik itu bisa berlangsung hingga sekarang, karena adanya keterlibatan para pewarta.

Dari sini nampak akan pentingnya sebuah pewartaan. Pewartaan yang berkualitas adalah pewartaan yang berdayaguna, yakni yang bersumber dari Yesus sendiri dan berguna bagi kehidupan umat beriman. Pewartaan yang menyentuh ruang hati dan pikiran para pendengarnya, seperti yang diteladankan oleh Yesus, Rasul Paulus, maupun Barnabas.

Mobilitas kehidupan manusia masa sekarang membutuhkan para pewarta. Faktor materialisme, konsumerisme, dan hedonisme terkadang membuat umat jatuh dalam hal yang tidak baik. Karena ketiga faktor tersebut, terkadang membuat manusia menjadi lupa akan hal-hal yang paling esensial dalam hidup, yakni relasi yang harmonis dengan Allah. Siapa yang menyadarkan mereka? Tentunya para pewarta yang berdayaguna, yakni lahir dari Allah, tidak mementingkan kebutuhan pribadi yang tulus serta kesungguhan mewartakan Firman Allah.

Seorang pewarta dengan pewartaan mesti tampil sebagai pewarta yang berdayaguna bagi orang lain. Perkataan dan cara hidup yang saleh dari St. Barnabas, mampu menobatkan begitu banyak orang pada waktu itu. Apakah kita bersedia menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk mewartakan kebaikan-Nya?

(Fr. Damianus Daga)

“Pergilah: Kerajaan Surga sudah dekat”. (Mat 10:7)

Marilah berdoa:

Tuhan, buatlah aku menjadi pewarta yang berdaya guna. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here