“Karya Keselamatan Allah”: Renungan, Minggu 10 Juni 2018

0
6703

Pekan Biasa X

Kej. 3:9–15; Mzm. 130:1-2,3–4ab; 4c–6,7,8; II Kor 4:13-5:1; Mrk.3:20-35

Allah menciptakan dunia dan manusia karena cinta dan berusaha agar keadaannya baik adanya. Hal ini dimaksudkan agar supaya manusia bahagia dan tidak berakhir dalam keadaan yang tidak baik.

Namun rencana Allah yang baik itu diganggu atau dihambat oleh si jahat yang menggoda manusia sehingga jatuh ke dalam dosa. Dan berakhir pada keadaan dosa yang membuat Adam dan Hawa malu dan takut bertemu dengan Allah.

Dosa itulah yang merusak kebahagiaan manusia untuk bisa bertemu dengan Allah. Bahkan, dosa juga membuat manusia saling menyalahkan dan saling membenci.

Namun kendati manusia telah berdosa, Allah menunjukkan kasih-Nya untuk manusia. Hal ini untuk mempertegas kata pemazmur bahwa “pada Tuhanlah kasih setia, dan pada-Nyalah penebusan berlimpah-limpah”.

Artinya, Allah yang penuh kasih tidak membiarkan tetapi segera menolong manusia yang jatuh ke dalam dosa dengan menjanjikan keselamatan. Karena itu, Allah menyatakan bahwa si jahat itu akan dihancurkan dengan diremukkan kepalanya.

Itulah janji Tuhan untuk menolong umat manusia dari dosa. Sehingga, Santo Paulus juga mempertegas cara Allah Sang Penyelamat itu dengan sebuah gambaran tentang adanya kehidupan kekal di dalam Kristus; suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia, melainkan oleh Allah jika kita percaya kepada Kristus.

Hal itu mau menunjuk bahwa kehadiran Yesus di tengah-tengah manusia adalah tanda datangnya karya keselamatan Allah itu. Artinya, ketika Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan adalah tanda bahwa Allah mengampuni dosa dan pengusiran setan adalah tanda bahwa Kerajaan Allah sudah datang dan kuasa kegelapan telah diusir.

Sehingga, penegasan tentang karya keselamatan itu menjadi sebuah panggilan untuk percaya kepada Kristus. Agar kita tidak menjadi orang Farisi jaman now yang kemudian karena kurang percaya, menuduh terhadap karya Yesus.

Oleh sebab itu, buanglah pikiran jahat kita untuk kemudian menuduh apa yang telah Allah kerjakan dalam hidup kita, apalagi menyangkalnya. Karena, bagi Yesus adalah sebuah dosa menghujat Roh Kudus atau berbuat dosa yang tidak bisa diampuni, dan berbuat dosa kekal, apabila kita keras kepala dan tidak mau percaya kepada karya yang menyelamatkan itu.

Sebab, Tuhan itu Maha Pengampun bagi mereka yang mau bertobat. Dan Allah bukan tidak mau mengampuni dan tidak mampu mengampuni, melainkan karena mereka sendiri tidak sudi untuk menerima pengampunan.

(Pst. Albertus Sujoko, MSC)

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk. 3:29)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami, dan anugerahkanlah rahmat kerendahan hati untuk beriman kepada-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here