“Cinta Kasih”: Renungan, Kamis 7 Juni 2018

0
6484

Hari Biasa (H)

2Tim. 2:8-15; Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14; Mrk. 12:28b-34. 

Cinta adalah salah satu tema populer dalam dunia dewasa ini. Dunia hiburan, produksi film/sinetron serta lagu-lagu populer didominasi tema tentang cinta. Adapun cinta yang mau ditampilkan yakni kisah cinta orang muda atau sepasang kekasih.

Apakah cinta itu hanya bagi muda-mudi? Tentu tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal mengungkapkan adanya cinta. Ada yang mengatakan: saya mencintai Tuhan, mencintai keluarga, mencintai karya, bahkan mencintai hewan peliharaan dan lain sebagainya. Ternyata cinta itu menyangkut berbagai hal.

Cinta itu terdapat dalam hubungan kita dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam semesta. Dalam kehidupan beriman kristiani, cinta menjadi landasan kehidupan.

Bacaan Injil hari ini berisi tentang “Hukum Cinta Kasih”. Penginjil Markus mengisahkan bagaimana Yesus menanggapi pertanyaan dari seorang ahli Taurat tentang hukum yang paling utama.

Yesus mengungkapkan bahwa hukum yang terutama yakni “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mrk. 12: 30-31a). Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan. Ini artinya kasihilah Tuhan dengan segala yang kita punya.

Tentu perlu diingat bahwa dengan mengasihi Allah, bukan berarti Allah perlu dikasihani. Tetapi, mengasihi Allah mengungkapkan kesadaran manusia akan Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi manusia.

Bagaimana caranya mengasihi Allah? Manusia memiliki hati, jiwa, akal budi dan kekuatan. Semua itu adalah berkat Tuhan dan dipakai untuk memuji Tuhan. Hati kita diarahkan untuk meneladani hati Yesus yang memancarkan kasih kepada sesama. Lewat doa, meditasi dan kontemplasi, jiwa kita dapat dekat dengan Tuhan.

Melalui akal budi, kita dapat lebih mengenal Tuhan dan tahu berpikir yang benar. Dengan kekuatan, kita dapat bertindak seturut kehendak Tuhan. Semua itu merupakan bentuk pujian dan kasih bagi Allah. Selain mengasihi Allah, Yesus menekankan juga tentang mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Bagaimana kita dapat mengasihi Allah yang tak terselami, bila kita tidak dapat mengasihi sesama kita manusia? Bila kita mengasihi Allah Pencipta, kita pun harus mengasihi ciptaan-Nya. Sebaliknya, bila kita mengasihi sesama manusia dan ciptaan lainnya, itu berarti juga kita mengasihi siapa yang menciptakannya. Kita pun mencintai Allah.

(Fr. Theodorus Michael Palit)

“Kasihilah Tuhan, Allahmu…” (Mrk. 12:30a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah aku saluran cinta bagi sesama. Amin

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here