“Syarat Menjadi Pewarta”: Renungan, Rabu 09 Mei 2018

0
4095

Hari Biasa Pekan VI Paskah (P)

Kis. 17:15, 22 – 18:1; Yoh. 16:12-15.

Manusia adalah pribadi yang unik. Ia memiliki kesadaran, hati nurani dan kehendak bebas. Bahkan ia diberikan talenta-talenta demi menumbuhkembangkan dirinya menuju pada kebahagiaan. Lantas tak heran jika seorang ingin masuk dalam profesi tertentu, terlebih dahulu ia diuji  dan ada syarat yang harus dilewatinya agar bisa masuk menggeluti bidang tersebut.

Bacaan-bacaan hari ini menampilkan tentang bagaimana Roh Kebenaran hadir di tengah-tengah dunia sebagai saksi pewartaan yang sejati. Dalam bacaan pertama, tokoh yang menjadi sarana kebenaran ialah Paulus. Paulus dinaungi oleh Roh Kudus sehingga ia bersemangat mewartakan Dia yang adalah Tuhan Pencipta alam semesta kepada orang Yunani yang menyembah dewa-dewa.

Paulus dengan gaya bahasa yang sederhana dan logis menjelaskan tentang Dia yang Mahakuasa di depan banyak orang. Selain itu juga, bacaan Injil mengisahkan tentang Roh Kebenaran yang tak lain ialah Kristus sendiri. Ia yang adalah satu dengan Bapa dan Roh kudus sebagai sumber pemberi kebahagiaan kekal.

Terkadang menjadi pertanyaan kita, apa yang mesti dilakukan sebagai seorang pewarta? Menempatkan diri dalam Allah dan memohon bantuan Roh Kudus adalah syarat yang mutlak menjadi pewarta. Lihatlah Paulus dengan gagah berani berdiri di depan banyak orang, tanpa ragu mewartakan Dia yang tersalib. Hal ini dikarenakan dirinya berada dalam pengalaman yang intens dengan Allah.

Dengan mengalami kasih Allah yang besar, ktia semua tanpa terkecuali bisa menjadi pewarta. Caranya mudah saja. Pakailah apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita: kesadaran, hati nurani dan kebebasan untuk mengalami Kebenaran itu, agar kelak apa yang kita buat menjadi sarana keselamatan bagi banyak orang.

Pada zaman sekarang, banyak orang cenderung untuk mengurus dirinya masing-masing. Handphone tidak pernah terlepas dari tangannya. Orang sibuk dengan dunianya sendiri. Yang pertama ialah urus diri sendiri, sehingga mengurus orang lain ialah hal kedua. Sikap inilah yang menjadi penghambat hadirnya Sang Kebenaran dalam dirinya. Kendati demikian, hal tersebut tidak menghalangi hadirnya Roh Kebenaran ke dalam dunia.

Roh yang hadir itu tak lain ialah Kristus sendiri. Ia memberikan diri-Nya bagi banyak orang. Membuka hati bagi kehadiran Roh Kudus adalah sikap yang baik sebagai seorang pewarta. Mampukah kita menjadi pewarta dalam menghadapi dunia saat ini? Kita akan mampu bila kita memohonkan kehadiran dan pertolongan Roh Kebenaran serta membiarkan Roh Kebenaran itu turut bekerja dalam hidup kita.

(Fr. Rafael Kelitadan)

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13b).

Marilah berdoa:

Tuhan, utuslah Roh Kudus hadir selalu beserta kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here