“Pengorbanan”: Renungan, Selasa 17 April 2018

0
2425

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 7:51 – 8: 1a; Mzm. 31:3cd4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh: 6:30-35

Setiap orang pasti mendambakan hidup yang tentram dan damai. Kedamaian akan tercipta ketika setiap orang hidup dalam kebenaran. Itu artinya, setiap orang selalu berusaha memperjuangkan kebenaran dalam hidupnya, apalagi sebagai pengikut Kristus. Dalam usaha untuk memperjuangkan kebenaran itu memang butuh pengorbanan. Apalagi pada zaman sekarang ini kerap kali kita mendengar dan menyaksikan sendiri betapa sulitnya memperjuangkan kebenaran. Sering terjadi, sesuatu yang salah menjadi benar dan sesuatu yang benar menjadi salah.

Dalam usaha memperjuangkan kebenaran, kita perlu belajar dari St. Stefanus. Ia menunjukkan suatu kebenaran iman. Pemberitaannya tentang Kristus yang benar kepada orang banyak ditolak karena mereka tidak percaya akan Kristus dan ajarannya. Mereka beranggapan bahwa ajaran Yesus bertentangan dengan hukum Taurat. Itulah sebabnya apa yang diberitakan oleh St. Stefanus dalam kehidupan saat itu tidak dapat diterima dengan mudah. Kesaksian Stefanus berakhir dengan kematian. Ia rela mati demi Yesus dan ajarannya karena imannya yang begitu besar kepada Yesus. Iman yang sungguh mendalam akan Kristus menghantar Stefanus untuk berdoa demikian sebelum meninggal: “Ya Tuhan Yesus terimalah rohku”.

Stafanus rela mati agar orang bisa percaya kepada Yesus dan ajaran-Nya. Tindakannya merupakan suatu tanda iman yang besar. Meskipun begitu masih ada orang-orang yang masih kurang percaya. Hal itu terungkap dalam bacaan injil hari ini. Mereka meminta tanda dari Yesus agar mereka dapat percaya kepada-Nya dan ajaran-Nya. Yesus sesungguhnya adalah tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Yesus sendiri menegaskan bahwa pekerjaan yang dikehendaki oleh Bapa ialah agar orang-orang percaya kepada Dia yang telah diutus oleh Allah. Hal ini berpuncak pada perkataan Yesus: “Akulah Roti hidup”.

Yesus datang untuk memberikan hidup bagi mereka yang lapar dan haus. Dia datang sebagai penebus yang siap membebaskan manusia dari tradisi atau kebiasaan-kebiaasan yang tidak benar. Kebisaan-kebiasaan yang seringkali dipraktekkan dalam kehidupan harian yang mengarahkan manusia jatuh dalam dosa. Untuk itu, pengorbanan Yesus sebagai bukti dan tanda nyata cinta kasih dari Allah kepada manusia.

(Fr. Leo Laiyan)

Akulah Roti hidup; barang siapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi. (Yoh. 6:35)

 Marilah berdoa:

Ya Yesus, terima kasih atas pengorbanan-Mu bagi kami, dan semoga kami pun rela berkorban seperti Engkau. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here