“Mencari Kebahagiaan”: Renungan, Senin 16 April 2018

0
1261

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29.

Setiap orang pasti ingin bahagia. Dengan kata lain, kebahagiaan itu selalu dicari oleh setiap orang. Ada pelbagai macam cara untuk menemukan kebahagiaan dan memang kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda. St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa kebahagiaan manusia yang sejati adalah kemuliaan. Dalam hal ini, kebahagiaan manusia yang paling utama adalah memandang kemuliaan Allah. Itu artinya, setiap orang pasti ingin masuk surga. Surga menjadi menjadi dambaan setiap orang. Surga menjadi tujuan akhir hidup manusia.

Kisah tentang Stefanus, martir pertama, menjadi contoh bagaimana manusia memperoleh kebahagiaan sejati. Ia menunjukkan cara yang tepat dalam mendapatkan kebahagiaan. Memang bagi sebagian orang, kebahagiaan dimengerti sebagai hasil dari usaha dan kesenangan belaka. Namun bagi orang Kristen, untuk mencapai kebahagiaan dibutuhkan pengorbanan. Dalam arti itu, sama seperti Yesus yang menderita, kita juga harus berani menderita demi kemuliaan dan kebahagiaan. Stefanus menunjukkan kepada kita, bahwa orang yang benar di mata Tuhan akan mendapatkan kebahagiaan di surga.

Dalam Injil, Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana mencari dan mendapatkan kebahagiaan. Orang banyak mencari-cari Yesus karena telah menikmati makanan yang berlimpah, yang Ia sediakan. Mereka mengerti pula bahwa Yesus dapat membebaskan mereka dari penderitaan. Yesus pun memberikan penerangan dan sabda yang membawa kebahagiaan. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai roti yang hidup. Ia menunjukkan bahwa melalui diri-Nya, kehidupan itu berlangsung dan lewat penderitaan-Nya, manusia bisa merasakan kebahagiaan.

Bagi Yesus, kebahagiaan bukan berasal dari roti yang membuat kita kenyang, bukan pula dari kata-kata penghiburan dan janji manis, tapi lebih pada kepercayaan dan pengharapan pada Tuhan. Oleh karena itu, Yesus mengajak kita bekerja keras dalam menaruh kepercayaan kepada Sang Roti Hidup yang turun dari surga. Sebab lewatnya, manusia dapat memperoleh kebahagiaan.

Kebahagiaan kekal itu kita dapatkan dari Tuhan lewat usaha kita. Yesus menghimbau agar kita selalu berusaha dan berjuang demi mendapatkan kebahagiaan kekal. Usaha ini telah diwujudnyatakan oleh St. Stefanus yang menderita demi kemuliaan Allah. Ini menjadi contoh bagi kita. Kadang kala kebahagiaan itu sulit diperoleh, tetapi bila kita bekerja keras, kebahagiaan itu pasti akan menghampiri kita. Menjadi pengikut Yesus memang sulit. Namun, bila kita berhasil, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan dari pada kebahagiaan bersama dengan-Nya di surga.

(Fr. Rikcardo D. Woi)

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh. 6:29b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga aku dapat berbahagia bersama-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here