“Aku Ini, Jangan Takut”: Renungan, 14 April 2018

0
1441

Peristiwa Yesus bersama dengan para murid dan orang lain pada zaman-Nya mengundang semangat banyak orang mencari Tuhan Yesus. Namun, agak berbeda dengan orang-orang pada zaman ini. Terkadang motivasi untuk mencari Yesus bukan karena percaya atau karena telah mengenal-Nya secara pribadi tetapi untuk sekadar memperoleh keuntungan. Lantas, bagaimana kita dapat mengenal-Nya secara pribadi dengan motivasi yang seutuhnya?

Dalam bacaan Injil hari ini, para murid menyaksikan dari dekat kuasa Ilahi Tuhan Yesus. Namun awalnya mereka sulit untuk mempercayai bahwa Yesus sedang berjalan di atas air, menuju perahu mereka. Akibatnya, mereka ketakutan! Mungkin mereka menyangka telah melihat hantu. Akan tetapi, setelah Yesus memberitahukan siapa Dia, dan setelah Dia masuk ke dalam perahu, laut pun tenang, dan perahu itu sampai ke tempat tujuan. Dalam situasi ketegangan para murid, Yesus menyapa mereka, “Aku ini… “(Ego eimi). Pernyataan tersebut adalah pernyataan janji Ilahi akan kehadiran-Nya yang senantiasa ada dalam hidup para murid-Nya. Oleh karena itu, dalam situasi apa pun para murid seharusnya tidak perlu takut karena kehadiran Tuhan Yesus adalah kehadiran Allah Sang pemilik kehidupan dan alam semesta ini. Untuk itu, di mana pun mereka berada, Tuhan Yesus selalu menyertai mereka.

Peristiwa demikian menjadi cerminan bagi kita bahwa pada zaman sekarang ini ada beragam sikap dan motivasi orang datang kepada Tuhan. Ada yang beribadah setiap minggu dengan motivasi agar sebutan umat beragama tetap melekat dalam dirinya. Ada yang berharap agar berkelimpahan berkat Tuhan terus-menerus. Lainnya lagi, karena sudah dibaptis, sudah Kristen, dan masih banyak lagi. Sesungguhnya, motivasi-motivasi tersebut tidak akan menolong orang Kristen untuk mengenal siapa Yesus yang sesungguhnya. Alasan yang benar untuk tetap beribadah adalah karena setiap orang Kristen harus bertumbuh dalam pengenalan terhadap kuasa, pekerjaan, dan pimpinan-Nya. Itulah yang seharusnya menjadi prinsip pertumbuhan rohani iman Kristen.

Dengan demikian, janji penyertaan-Nya itulah yang seharusnya membuat kita berani menghadapi tantangan apa pun dengan tetap setia menghayati kehadiran-Nya dengan hidup kudus dan setia dalam bersaksi. Tuhan Yesus sendiri telah menyatakan kepedulian Allah kepada umat manusia. Semoga, kita juga dapat merasakan dan menikmati anugerah-Nya yang melimpah, dipanggil untuk mewartakan kepedulian-Nya atas kehidupan manusia berdosa dan menjadi sarana perwujudan kasih-Nya itu secara nyata bagi sesama.

(Fr. Fenansius Ngoranmele)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here