“Dimanakah Rasa Empatimu?”: Renungan, 13 April 2018

2
2633

Dalam hidup yang penuh dengan arus modernisasi ini, masih banyak saudara kita yang membutuhkan perhatian dan uluran bantuan kita. Sebagai mahkluk sosial, kita pasti membutuhkan orang lain untuk saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan sehairi-hari. Kunci untuk menjawab tantangan situasi tersebut yaitu rasa empati.  Empati adalah kemanpuan perasaan kita untuk mengalami apa yang mereka alami dan merasakan apa yang mereka rasakan.

Bacaan-bacaan hari ini, mengajarkan kita untuk membangkitakan rasa empati dengan meneladani dua tokoh sentral yaitu Yesus dan Gamaliel. Bacaan pertama menunjukkan sikap belas kasih Gamaliel, seorang ahli Taurat, yang menyelamatkan dan membela nasib rasul-rasul Yesus yang ingin dibunuh oleh para ahli taurat dan Farisi. Selain itu juga, secara istimewa, bacaan injil hari ini menujukkan pula sikap bela rasa Yesus yang juga menyelamatkan orang-orang yang mengkutin-Nya dari penyakit dan kelaparan.  Dalam situasi tersebut, Yesus peka akan kebutuhan dari orang-orang yang besama dengan-Nya. Akhirnya, Yesus tergerak oleh sikap empatinya untuk merasakan apa yang mereka rasakan saat itu.  Maka, “Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk distu, demikian juga dibuatnya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki (ay 11”. Keinitiman dari tindakan Yesus dan Gamaliel bersumber dari sikap empati. Kedua tokoh ini menjadi teladan bagi kita untuk menunjukkan rasa empati kepada sesama. Rasa empati mereka diaktualisasikan melalui perkataan dan perbuatan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan dari mereka.

Dimanakah rasa empatimu? Tanpa disadari bahwa rasa empati kita terkadang tenggelam oleh perkembangan zaman yang maju, terlebih pada masyarakat perkotaan. Rasa empati hilang, bagaikan tenggelam dalam individualisme yang tinggi. Padahal, sikap dan rasa ini memperkuat eksistensi kita sebagai mahkluk sosial yang membutuhkan orang lain. Kita dapat belajar menumbuhkan rasa empati dengan cara memberi sedekah, menolong orang sakit, mencintai lingkungan alam, menghormati orang tua, mengajarkan ilmu dan sebagainya. Inilah cara sederhana kita untuk mematangkan rasa empati kita.  Ketika kita berempati kepada orang lain, maka kebaikan akan selalu datang kepada kita, termasuk dalam meraih sukes. Percayalah! Rasa empatimu akan melahirkan dirmu sebagai pemenang kehidupan.

(Fr. Laurens Renwarin)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here