“Keberanian Sang Pewarta”: Renungan, 12 April 2018

0
1474

Kesaksian iman membutuhkan suatu keberanian dan komitmen. Keberanian dan komitmen dalam pewartaan membuat seorang pewarta tidak takut akan tantangan dan rintangan yang datang melanda drinya, dan sebaliknya seorang pewarta yang di dalam dirinya tidak ada keberanian dan komitmen pewartaan sudah pasti akan meninggalkan tugas pewartaannya ketika berhadapan dengan tantangan dan rintangan yang ada. Karena dalam kesaksian iman, pewarta akan menemukan fakta bahwa tidak semua kebenaran yang dikatakan dapat diterima oleh orang lain. Kebenaran akan dipertanyakan dan yang lebih miris lagi kebenaran itu ditolak. Untuk menghadapi fakta demikian, seorang pewarta harus tetap menyadari saiapa yang mengutusnya dan untuk siapa ia diutus.

Bacaan Injil berbicara tentang tugas dan tanggungjawab dalam kesaksian dan juga kosekuensi bagi mereka yang mendengar dan yang tidak mendengar kesaksian itu. Sebagai orang yang beriman akan Allah, kita semua adalah orang-orang yang telah mendengar dan menerima kebenaran. Allah meminta kita agar menjadi pewarta-pewarta kabar kembira bagi orang lain sehingga semakin banyak orang yang betobat dan kembali ke jalan yang benar. Dalam tugas dan tanggungjawab kita, kita diajak untuk memberi pemahaman kepada orang lain agar harus lebih taat  kepada Allah daripada kepada manusia atau hal-hal duniawi.

Allah yang adalah kebenaran telah hadir dalam diri Yesus Kristus yang kita kenal dan yang kita imani sebagai contoh dan teladan kesaksian yang sejati. Penegasan Injil hari ini hendaknya kita hayati dalam hidup, yakni “barang siapa yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal”. Ini adalah janji Allah bagi umat-Nya yang menerima kebenaran itu. Allah yang kita imani telah menunjukan jalan bagi kita bagaimana kita dapat memperoleh hidup yang kekal dan bisa bersatu dengan-Nya dalam kebahagiaan surgawi. Hal ini mau memberi pemahaman iman  kepada kita, bahwa iman yang kita hidupi bukanlah iman yang sia-sia dan tidak punya tujuan. Allah yang kita imani bukanlah Allah yang menutup diri dan tinggal diam di surga, melainkan Ia yang membuka diri dan datang ke dunia untuk berjumpa dan merasakan langsung pergumulan hidup umat-Nya. Disamping Allah menunjukan jalan keselamatan, Allah juga memberi pemahaman sekaligus teguran, bahwa mereka yang tidak mendengar, tidak menerima kesaksian itu dan tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.

(Fr. Aloisius Wazi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here