“Kasih yang Menyelamatkan”: Renungan, 11 April 2018

0
3276

Kita semua pernah mendengar bahwa, kasih itu adalah hal terpenting dalam menjalani kehidupan ini. Orang yang penuh dengan kasih, akan hidup dengan baik. Pada hari ini, kita mendengarkan bacaan yang mengisahkan tentang kasih Allah yang mahakuasa itu. Kasih Allah ini merupakan alasan, mengapa Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal, turun dan tinggal di dunia, menjadi sama dengan manusia bahkan rela menderita sampai wafat di salib, demi menebus dosa-dosa manusia. Hal ini hendak memberikan suatu penegasan bahwa, kasih itu menyelamatkan.

Seluruh ciptaan dan terutama manusia, menjadi objek kasih Allah yang menyelamatkan. Karena kita manusia inilah maka Allah telah berkenan mengutus penebus ke dunia yaitu Kristus Putera-Nya sendiri. Manusia sering kali menuntut keselamatan tetapi, terkadang dalam hidup, kita tidak memaknai kasih yang berasal dari Allah itu. Padahal Yesus telah datang untuk menyelamatkan umat manusia dengan tidak menghakimi kita namun, tetap saja ada tindakan manusia yang kali mau keluar dari lingkaran kasih Allah itu. Allah tidak pernah menuntut berbagai hal kepada manusia melainkan, Allah menghendaki kita supaya bisa mempraktekkan kasih itu kepada sesama melalui tindakan saling tolong-menolong dan teristimewa kepada Allah dengan tetap setia kepada-Nya.

Tindakan manusia memainkan peranan dalam menentukan keselamatan atau penghakimannya. Manusia yang tidak mau selamat, akan menjauh karena ia tidak ingin supaya kejahatannya diketahui oleh manusia yang lain dan terlebih oleh Allah sendiri. Sementara manusia mau untuk selamat, akan datang kepada terang, yakni Allah sendiri yang adalah sumber dan asal terang itu, dan manusia mau untuk menjadi bagian dari terang itu sehingga, perbuatannya menjadi suatu tindakan yang penuh kasih karena berasal dari terang sejati yakni Allah. Karena ketika kita jauh dari Allah, berarti kita menjauh dari kasih yang menyelamatkan.

Kita baru  saja merayakan pesta kebangkitan Kristus. Sebagai orang beriman yang menaruh pengharapan bahwa, akan mendapatkan keselamatan yang berasal dari Allah, sudah sepantasnya kita mempraktekan kasih yang dari Allah itu. Karena kasih Allah itulah kita semua diampuni dan dibebaskan dari dosa dan kesalahan kita  melalui sengsara dan wafat Yesus di kayu salib, supaya kita dipersatukan oleh Allah dan menjadi anak-anak-Nya. Sudahkah kita mengasihi Tuhan dan sesama kita? Amin.

(Fr. Johanis H. Raharusun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here