“Komunitas Cinta Kasih”: Renungan, 8 April 2018

0
1742

Satu urat lidi tidak dapat digunakan untuk menyapu halaman, dibutuhkan banyak lidi. Satu batu tidak dapat membentuk sebuah tembok yang kokoh, dibutuhkan banyak batu. Begitu pula sebuah komunitas kristiani, dia akan kokoh apabila ada saling dukungan, saling mempercayai, dan mengandalkan Tuhan. Sebab sebuah komunitas tidak hanya terdiri dari satu orang saja, tetapi banyak orang dengan ciri khasnya masing-masing. Maka pentinglah untuk memperhatikan unsur kebersamaan dalam komunitas. Bacaan-bacaan Kitab suci memberikan beberapa penekanan utama terkait dengan kehidupan bersama itu.

Pertama, Lukas dalam Kisah Para Rasul hendak menunjukan bahwa sebuah komunitas itu dapat kuat dan baik hanya ketika orang mampu untuk saling mendukung. Sebuah komunitas akan mudah hancur ketika orang di dalamnya saling menjatuhkan dan daling mengejar kedudukan. Sebaliknya sebuah komunitas akan kokoh kuat ketika anggotanya punya kepedulian yang besar untuk mendukung satu dengan yang lain (kerjasama). Itulah yang ditampilkan oleh jemaat perdana. Segala sesuatu yang menjadi kepunyaan pribadi dijadikan sebagai kepunyaan bersama. Hasil dari saling mendukung itu yakni mereka tidak ada yang berkekurangan. Kedua, setiap komunitas kristiani harus memiliki iman yang besar kepada Kristus. Beriman kepada Kristus berarti menjadikan Kristus sebagai teladan hidup. Setiap orang Kristen perlu memiliki idola hidup yang dapat menjadi teladan bagi mereka. Yesus adalah idola yang tepat. Menjadikan Yesus sebagai teladan berarti mengikuti ajaran-ajaran Yesus. Inti dari ajaran Yesus adalah cinta kasih. Dalam hidup komunitas, cinta kasih sangat dibutuhkan. Sebuah komunitas akan menjadi kuat jika mampu mengandalkan Kristus dan mempraktekkan cinta kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, sangat pentinglah sikap saling percaya. Tomas digambarkan sebagai orang yang tidak percaya. Ketidakpercayaan Tomas menjadi sebuah batu sandungan dalam komunitas para rasul saat itu. Bahkan bisa jadi ajaran Kristus tidak menghasilkan sesuatu pada diri Tomas. Untuk memastikan bahwa ketidakpercayaan Tomas adalah sebuah kesalahan maka Kristus menampakkan diri kepadanya. Pengalaman Tomas ini memberikan pelajaran yang sangat baik, bahwa sebuah komunitas perlu dilandaskan pada sikap saling percaya. Komunitas akan hancur ketika setiap anggota memiliki rasa curiga, cemburu, iri hati. Maka dari itu, perlu ada sikap saling percaya.

Kita semua hidup dalam berbagai komunitas. Ingatlah bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita hidup bersama dengan orang lain. Maka pantaslah kita belajar dari teks Kitab Suci hari ini. mari kita saling mendukung, saling percaya dan punya iman besar kepada Kristus.

(Fr. Simon Petrus Laian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here