“Tetap Berbuat Baik”: Renungan, 8 Maret 2018

0
3964

Alam hidup ini, sebagai manusia kita berusaha untuk melakukan hal yang baik. Hal yang kita lakukan itu tentunya bukan hanya demi kebaikan diri sendiri, melainkan juga demi orang lain. Sebagai contoh, kita membantu sesama, memberi sedekah dan lain sebagainya. Namun, terkadang kita dinilai sebagai pencari muka, punya maksud tertentu dan selalu di kata-katai atau lain sebagainya. Mengapa demikian? Dalam kehidupan ini, sering kali ada dua hal yang bertentangan. Selalu ada sisi baik dan tak heran juga ada sisi buruk yang menyertai. Sisi baik itu terjadi karena manusia hidup sesuai kehendak Tuhan. Sebaliknya, sisi yang berlawanan terjadi karena kehidupan manusia terpisah dari Tuhan. Ketika kita mulai jauh dari Tuhan, maka kuasa jahat dapat dengan mudah

menguasai kita.

Injil hari ini melukiskan tentang orang-orang yang berprasangka buruk atas tindakan Yesus. Mereka tidak senang terhadap Yesus. Meskipun kenyataannya Yesus melakukan pelayanan yang terbaik, namun tetap saja ada orang yang menyangka bahwa Yesus mengusir setan atas nama Beelzebul, penghulu setan. Perbuatan baik Yesus tidak diindahkan dan malahan Yesus dituduh berbuat sesuatu berdasarkan kuasa setan. Yang menjadi pertanyaan, apakah yang menyebabkan mereka berpikir begitu? Sifat iri hati dan rasa dengkilah yang telah menutup hati mereka. Dalam kehidupan kita pun kadang kala terjadi demikian. Banyak hal yang selalu kita lakukan demi kebaikan orang lain. Tapi yang kita peroleh yakni cercaan, cemooh, dan omelan. Kadang kala kita dianggap punya maksud tertentu lewat tindakan yang kita lakukan. Namun sebagai orang yang percaya, hendaklah kita selalu berusaha untuk hidup baik dan bertindak benar di hadapan mata Tuhan. Sebab Ia tahu apa yang selalu kita perbuat di dalam hidup ini. Ia yang tahu persis apakah kita ada di pihak-Nya atau kita melawan Dia.

Dalam masa prapaskah ini Tuhan mengajak kita untuk selalu berbuat baik dan berlaku bijak terhadap sesama. Mari kita berusaha hidup tekun dalam doa, kembali bersemangat, bangkit dari kemalasan, berhenti membicarakan orang lain, dsb. Dengan demikian kitapun akan menjadi bersahaja di hadapan Yesus yang baik hati. Yesus tetap memberikan waktu kepada kita untuk bertobat agar dapat meraih kebahagiaan sejati. Semoga kita tetap berlaku baik dan terus berada di pihak Tuhan.

(Fr. Christivorus Ino Refilely)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here