“Ketaatan dan Kesetiaan”: Renungan, 18 Maret 2018

0
6886

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan, kita dituntut untuk tetap setia dan taat sampai pekerjaan itu selesai. Misalnya di kantor, kita dituntut untuk hadir tepat pada waktunya. Begitu juga ketika pulang, kita harus pulang sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan. Namun sering kali kita lalai dan tidak bisa mengikuti apa yang telah ditetapkan. Kita sering melanggar dan tidak taat terhadap apa yang telah disepakati bersama. Keinginan dan kemauan manusiawi kita tidak dapat dikontrol dengan baik, sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam hidup.

Bacaan-bacaan pada hari Minggu Prapaskah kelima ini mengajarkan tentang ketaatan dan kesetiaan. Dalam bacaan pertama Allah mengatakan kepada bangsa Israel, bahwa Allah sebagai Tuhan mereka, menunjukkan ketaatan dan kesetiaan melalui hukum Taurat. Hukum Taurat akan menjadi pedoman bagi bangsa Israel, agar tidak menyimpang dari perintah yang telah diberikan. Sedangkan dalam bacaan Injil, Yesus menunjukkan ketaatan-Nya kepada para murid melalui penderitaan yang akan Ia jalani. Yesus telah mengetahui bahwa ada saat dimana Ia akan mati di Kayu Salib demi manusia. Sengsara yang akan dialami oleh Yesus tidak membuat Ia gentar dan takut.

Ketika mengetahui bahwa akan menderita, Yesus memilih untuk taat dan menerima apa yang akan dialami-Nya. Ia tidak meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan ini dari pada-Nya. Melainkan dengan taat dan hati terbuka Ia menerima tugas itu. Yesus mengetahui bahwa di balik penderitaan-Nya akan ada kehidupan baru. Ia mati disalib demi manusia, dengan begitu manusia akan diselamatkan dari dosa. Dengan penderitaan Yesus di salib, manusia dibebaskan dari dosa dan memperoleh hidup baru dalam Kristus.

Dalam masa Prapaskah ini, kita pun diajak untuk tetap taat dan setia pada iman dan kepercayaan kita akan Kristus. Kiranya penderitaan Kristus di salib tidak sia-sia, melainkan membawa berkat dan suka cita. Sehingga kita dapat membangun hidup baru dalam Kristus. Apa yang harus kita buat untuk membangun hidup baru dalam Kristus? Pertama, kita harus bertobat. Kedua, membaharui diri dan meninggalkan kebiasaan hidup manusia lama, sehingga kita dapat membangun hidup baru dalam Kristus yang telah menang atas dosa. Dengan demikian, kita dapat memuji dan memuliakan Allah lewat sikap dan tindakan kita dalam kehidupan setiap hari.

(Fr. Leo Laian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here