“PATER NOSTER” : Renungan, Kamis 20 Juni 2024

0
289

Hari Biasa, Pekan XI (H)

Sir. 48:1-14; Mzm. 97:1-2.3-4.5-6.7; Mat. 6:7-15

Doa bukanlah ajang berpidato dan menceramahi Tuhan. Doa adalah bentuk komunikasi spiritual antara manusia dengan Allah. Komunikasi itu terdiri dari ucapan syukur, pujian dan permohonan. Salah satu doa yang memuat semuanya itu ialah Bapa Kami (Pater Noster; Our Father). Inilah doa yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya sewaktu berkhotbah di bukit. Mengapa demikian? Karena bagi Yesus, doa bukan hanya sebagai untaian kata-kata yang panjang dan kosong. Doa menjadi ungkapan hati yang lapang pada kehendak Allah.

Doa Bapa Kami ini sangat agung dan sempurna karena merangkum semua apa yang ingin diminta oleh manusia kepada Allah. Doa ini pula yang menunjukkan bahwa manusia sungguh-sungguh mengenal Allah. Namun, apakah manusia tidak boleh berdoa spontan? Manusia boleh saja berdoa spontan asalkan sesuai dengan rumusan yang diajarkan oleh Yesus, yang terdiri dari ucapan syukur, pujian dan permohonan. Dengan mengucap syukur, kita menyadari bahwa Allah terus dan tanpa henti mengasihi kita. Melalui pujian, kita memuliakan Allah yang kuasaNya melebihi segala sesuatu. Dalam permohonan kita memohon kepada Allah, agar Ia berkenan menguatkan dan meneguhkan hati kita dalam menghadapi segala macam pergumulan.

Seringkali ketika mengalami penderitaan, manusia memohon kepada Allah agar menyingkirkan penderitaan itu. Jarang sekali manusia meminta supaya Allah menguatkannya dalam segala penderitaan. Orang beranggapan bahwa ketika ia sedang dalam kesulitan, berarti Allah tidak mempedulikan bahkan meninggalkannya. Padahal saat masa-masa kritis itu, Allah sedang menawarkan pelbagai rahmat, hanya saja manusia berkeras hati dan tidak mau datang kepadaNya. Bahkan ada yang menjadikan doa spontan sebagai sarana menggerutu dan memprotes Allah karena keadaan yang kurang menyenangkan. Doanya terlihat panjang namun semuanya berisi kecemasan dan kekecewaan seperti orang munafik yang tidak mengenal Allah.

Ucapan syukur dan pujian tidak lagi diucapkan manusia di kala sedang mengalami penderitaan. Ia lebih suka berpidato dan menceramahi Tuhan di dalam doanya. Itulah mengapa doa Bapa Kami diajarkan oleh Yesus, supaya kita tahu bersyukur, memuji dan memohon kehendak Allah terjadi dalam setiap pergumulan dan perjalanan hidup kita. Doa bukan menghindarkan kita dari segala penderitaan dan kesulitan. Tetapi melalui doa, Allah menguatkan kita untuk mampu melewati segala penderitaan dan kesulitan itu. Olehnya itu jangan pernah kita berhenti bersyukur, memuji dan memohon kepada Allah agar kehendakNya terjadi dalam hidup kita.

(Fr. Selestinus Sarkol)

 “Jadi kamu jangan seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu meminta kepadaNya” (Mat. 6:15).

 

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah kami dalam segala penderitaan dan kesulitan kami. Biarlah kehendakMulah yang terjadi. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini