“CARI MUKA” : Renungan, Rabu 19 Juni 2024

0
297

Hari Biasa, Pekan XI (H).

2Raj. 2:1.6-14; Mzm. 31:20.21.24; Mat. 6:1-6.16-18

Manusia dewasa ini hidup dalam lingkup persaingan. Semua ingin menjadi populer. Orang jahat bersembunyi di balik perbuatan baik. Media sosial menjadi tempat pameran diri atau cari muka. Supaya terlihat baik secara publik, orang berlomba-lomba membuat konten yang mengandung nilai-nilai moral-spiritual. Misalnya, ada yang membuat konten memberi sedekah kepada anak yatim atau orang miskin di pinggir jalan. Ada pula yang membuat konten religius seperti berdoa dan membagi-bagikan komuni untuk orang sakit. Dua tindakan ini tampak baik dan sangat terpuji, tetapi motifnya perlu direfleksikan lagi. Apakah motifnya untuk memperkenalkan Allah atau memperkenalkan diri sendiri?

Hari ini Yesus memberi pengajaran kepada murid-muridNya cara dan motif yang benar dalam memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Ketika memberi sedekah jangan diketahui orang lain. Berdoalah di tempat yang tersembunyi. Minyakilah kepala dan cucilah muka saat berpuasa. Kata “tersembunyi” menjadi kata kunci dari setiap perbuatan baik yang kita buat. Mengapa demikian? Karena seringkali manusia kehilangan tujuan dari setiap perbuatan baiknya.  Bisa jadi orang bersedekah, berdoa dan berpuasa bukan untuk bersyukur dan memuji Allah tetapi mencari pujian dari sesamanya. Motif gila hormat dan pujian ini diantisipasi oleh Yesus dengan memberi pengajaran demikian. Ia tidak ingin manusia mencari sesuatu yang sia-sia melainkan mencari Allah yang memberi kepastian akan masa depan.

Seringkali manusia menaruh hidup dan masa depannya pada sesamanya dan benda-benda teknologi lainnya. Ada yang mengira bahwa ketika ia mencari muka pada sesamanya, hidupnya akan aman karena jabatannya dan status sosialnya akan dinaikkan. Seorang pembantu harus berpura-pura baik di hadapan majikannya supaya gajinya makin bertambah. Ada pula yang merasa aman ketika mendapat banyak pujian di media sosial. Karena alasan kehormatan dan pujian, manusia rela hidup dalam kepura-puraan. Akibatnya Allah tidak lagi mendapat tempat di setiap perbuatan manusia. Perbuatan yang tampaknya baik dan terpuji pun dilakukan semata-mata bukan demi kemuliaan Allah; tetapi karena ingin mencari pujian sia-sia yang membingungkan, menyesatkan dan tidak menjamin masa depan. Memuji Allah atau mencari muka?

(Redaksi)

“Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 16:18b).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bimbinglah kami agar selalu mencari Engkau di setiap perbuatan baik kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini