“Hidup Dalam Persekutuan” Renungan 23 Januari 2023

0
146

Hari biasa (H).

BcE Ibr.  9: 15,24-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Mrk. 3:22-30.

Dalam hidup sehari-hari kita terdapat berbagai kelompok sosial ataupun keagamaan di sekitar kita, misalnya: OMK, Kaum Bapak, Kelompok persaudaraan, sekolah hingga kelompok yang paling kecil dan mendasar yakni keluarga. Pada umumnya kelompok-kelompok itu terbentuk karena tujuan yang sama, visi-misi yang sama, ataupun karena kegemaran yang sama. Lama tidaknya keberadaan sebuah kelompok ditentukan oleh cara hidup anggota-anggotanya. Suatu persekutuan akan tetap bertahan apabila anggotanya saling menghargai, mendukung, dan membantu dengan sepenuh hati. Begitupun sebaliknya, suatu persekutuan akan hancur apabila anggotanya tidak saling menghargai, egois, dan bertentangan satu dengan yang lain.

Hari ini Injil Markus berbicara tentang pertentangan antara ahli-ahli taurat dan Yesus. Ahli-ahli taurat menuduh Yesus mengusir iblis dengan kuasa iblis. Lantas apa yang dikatakan Yesus? Yesus memanggil mereka dan berkata “Bagaimana Iblis dapat mengusir iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan (Mrk. 3:23-24)” Maksud jawaban Yesus pertama- tama ingin membantah tuduhan mereka kepada diri-Nya. Masakan iblis dapat mengusir iblis? Jawaban rasional Yesus secara tidak langsung mematahkan argumen ahli-ahli taurat. Karena tuduhan mereka mengarah pada keraguan akan roh Kudus, Yesus lalu berkata “..Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak dapat ampun selama-lamanya (Mrk. 3:24)”.

Namun kali ini secara khusus kita diajak untuk melihat kata-kata Yesus pada Mrk. 3:23-24. Perkataan Yesus sebenarnya mengarah pada pentingnya persatuan dalam suatu kelompok atau persekutuan. Seringkali orang bersifat egois sehingga melupakan orang lain di sekitarnya. Seringkali orang bersifat masa bodoh terhadap orang-orang di sekelilingnya. Seringkali banyak orang tidak peduli dengan sesamanya. Hal inilah yang seringkali memicu adanya perpecahan dalam kelompok. Seringkali perbedaan pandangan, latar belakang, bahkan fisik menjadi sebab perselisihan dalam suatu persekutuan. Perselisihan ini selanjutnya membawa pada dampak yang lebih besar yakni perpecahan dalam kelompok. Masing-masing orang berjalan menurut kemauannya sendiri.

Sebagai pengikut Kristus marilah kita meninggalkan segala keegoisan kita dan membuka mata untuk melihat orang lain di sekitar kita. Perbedaan latar belakang, pendapat, keinginan, dan sebagainya bukanlah penghalang bagi kita untuk menjadi pengikut Kristus yang mencintai sesama dan juga Tuhan sendiri. Persekutuan kita adalah persekutuan atas nama Kristus. Kristus lah yang mempersatukan kita menjadi anak-anaknya. Oleh karena itu sebagai anak-anakNya hendaknya kita menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati, peduli terhadap sesama dan mendasari hidup kita pada Yesus yang adalah sumber kehidupan kita.

(Fr. Angky Savsavubun)

 

“Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan”

(Mrk. 3:23-24)

Marilah Berdoa:

Tuhan satukanlah kami menjadi putera-puteri-Mu yang mencintai Engkau dan juga sesama kami.   Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here