“Waspada dan Berjagalah!” : Renungan, Selasa 22 November 2022

0
299

Pw  S. Sesilia, PrwMrt (M)

Why. 14:14-20; Mzm. 96:10,11-12,13; Luk. 21:5-11; atau dr RUybs.

Hari ini kita kita berada pada pekan biasa ke XXXIV, pekan terakhir dari tahun liturgi. Gereja menarik kita untuk merenungkan bersama-sama tentang akhir zaman. Memang tidak ada keterangan yang jelas tentang waktu dan saatnya akhir zaman itu datang, tetapi melalui bacaan hari ini Yesus mengingatkan kita untuk tetap waspada dan terus berjaga.

Penginjil Lukas dalam injil hari ini mengisahkan Yesus yang berbicara tentang kehancuran kota suci Yerusalem, yang sepenuhnya tergenapi pada tahun 70 Masehi, di mana tentara Romawi di bawah pimpinan Kaisar Titus, menghancurkan Bait Suci, hingga tersisa puing-puing. Bangsa Israel menganggap Bait Suci merupakan tempat yang membanggakan di mana Allah yang Mahakudus tinggal dan berdiam. Di tempat itu juga diletakkan tabut perjanjian sebagai tanda kemenangan. Sehingga ketika Bait Suci itu dihancurkan dan jatuh ke tangan musuh, sungguh menjadi kehancuran dan kekalahan bagi mereka.

Kegemparan yang ditimbulkan dari hancurnya Bait Suci ini,  tepat sekali menggambarkan kedahsyatan yang akan dialami manusia pada akhir zaman. Umat manusia masih akan mendengar peperangan dan pemberontakan, akan terjadi bencana, gempa bumi yang dahsyat, penyakit dan kelaparan, serta akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat. Namun Yesus mengingatkan bahwa semua itu akan terjadi lebih dahulu. Untuk itu janganlah panik dan takut.

Dalam arti rohani Bait Suci tidak lain adalah diri kita sendiri. Kehancuran yang dialami oleh bangsa Israel, dapat juga kita alami ketika Roh Allah yang kita terima sejak pembaptisan yang seharusnya tinggal dan berdiam dalam diri, tidak lagi menguasai kita. Maka dengan demikian kita sedang dan sementara menuntun diri dan tubuh kita menuju kehancuran.

Kita perlu membuka diri dan hati selebar mungkin, sehingga Roh Allah dapat menguasai kita. Kita juga harus meletakkan batu-batu bangunan yang kokoh dalam diri kita lewat tindakan doa dan pertobatan hati sambil berjaga dan mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Sang Putra Manusia.

(Fr. Gerren Maweikere)

“Akan datang harinya segala yang kalian lihat di situ diruntuhkan, dan tidak akan ada satu batupun dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (Luk 21:6).

Marilah berdoa:

Ya Allah Tritunggal, ajarilah kami untuk tetap setia kepada-Mu, biarlah Engkau bertahta selama-lamanya dalam diri kami. Amin.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here