“Persembahan Diri  Bunda Maria” Renungan, Senin 21 November 2022

0
244

Pw  SP Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)

Why. 14:1-3,4b-5; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Luk. 21:1-4.

Orang biasanya melihat besarnya jumlah dalam menilai kebaikan seseorang, tetapi Tuhan melihat kualitas hati dari si pemberi. Orang kaya memberi dari kelebihannya, sedangkan orang miskin dari kekurangannya, bahkan dari seluruh nafkahnya. Bagaimana dengan pemberian yang kita lakukan? Bagaimana dengan memberi dari kekurangan?

Janda miskin yang dilukiskan dalam bacaan Injil Lukas pada hari ini memberikan dua peser ke dalam peti persembahan. Itu merupakan pemberian yang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah yang diberikan oleh orang kaya. Tetapi, mengapa Yesus mengatakan bahwa pemberian janda ini besar? Yesus hendak menunjukkan bahwa persembahan sejati kepada Allah bukan dilihat dari besarnya sebuah materi yang kita miliki. Persembahan yang besar itu dilihat dari niat baik untuk memberi. Ini bukan berarti semua yang memberi tidak punya niat baik. Namun, sebagian orang justru menggunakan ini sebagai jalan untuk menarik simpati orang lain. Selain itu, kesediaan si janda miskin untuk memberi, menjadi cambuk bagi kita yang sering memaafkan diri sendiri bila tidak memberi persembahan karena rasa malu karena hanya memberi sedikit. Ingatlah bukan jumlah uangnya yang Tuhan perhitungkan tetapi sikap hati yang percaya dan mau berkorban.

Bacaan pertama yang diambil dari Kitab Wahyu memberikan gambaran kepada kita, bagaimana tipu muslihat Iblis berhasil membuat orang berpaling dari Tuhan. Tetapi, ia tidak berhasil mempengaruhi umat Allah sejati. Dengan menanamkan kesadaran bahwa mereka telah ditebus dengan kurban darah Yesus sendiri, mereka pun hidup sebagai kurban-kurban pujian bagi Sang Penebus.

Pada hari ini, kita memperingati Pesta Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah. Tradisi kuno mengatakan bahwa Santa Perawan Maria, pada masa kanak-kanaknya, dipersembahkan secara khidmat kepada Allah di dalam Bait Allah di Yerusalem. Ketika usianya baru tiga tahun, Santa Perawan Maria dibawa oleh kedua orangtuanya, St. Yoakim dan Sta. Anna untuk dipersembahkan kepada Allah. Ini merupakan persembahan diri yang utuh kepada Allah. Kiranya kita semua dapat belajar dari Bunda Maria dan janda miskin hari ini, bahwa yang menjadi ukuran bagi kita sebagai orang beriman untuk bisa mempersembahkan bukan hanya sebuah materi tetapi juga seluruh diri kita dengan tulus dan sepenuhnya percaya akan Allah.

(Fr. Kostan Tunyanan)

“Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Luk. 21:4).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga tanda cinta kasih-Mu nyata dalam setiap hidup ini. Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here